Baca Juga : Hasil Pengkaderan SBY Di Demokrat : Tukang Santet, Baku Tikam Dan Koruptor
GATOT berujar bahwa, dirinya pernah diajak ikut mendongkel atau mengkudeta AHY dari kursi Ketua Umum, dengan cara diadakannya Kongres Luar Biasa (KLB). Anehnya, ia tak menyebut nama siapa yang mengajaknya. Artinya ia tak tahu siapa nama yang mengajaknya itu.
Pernyataan Gatot yang merasa paling bersih ini memang sudah tabiatnya. Begitu mudahnya ia (saat menjadi mantan Panglima TNI) menuding PKI, partai yang dilarang sejak tahun 1965 itu ada di pemerintahan Jokowi. Saat sebagai Panglima TNI, Gatot tak bisa membuktikannya, karena memang tidak ada PKI di era saat ini.
Ketika mendengar celotehan Gatot yang tak mendasar Sekjen Demokrat kubu Moeldoko, Jhoni Alen Marbun menegaskan, pihaknya (KLB Sibolangit, Sumut) tidak mungkin mengajak Gatot mengkudeta AHY. Pasalnya, Gatot tidak punya integritas karena sudah melakukan kampanye terselubung ke kampus-kampus saat memimpin TNI.
Parahnya lagi, kedekatan Gatot dengan kelompok FPI, dibangunnya saat menjadi Panglima TNI, maka ketika diirinya pensiun kedekatannya semakin nyata dan jelas dengan FPI yang telah dibubarkan pemerintah dengan alasan kuat,
"Soal integritas enggak mungkin kami mengajak dia, ingat siapa yang mengangkat dia jadi panglima? Jokowi. Dia masih menjadi panglima menjaga kedaulatan negara dia sudah terselubung kampanye-kampanye ka kampus-kampus dan saya ikutin itu," tuturnya.
Dari kubu KLB Gatot sudah ditolak. Berharap pada kubu AHY, sampai saat ini tak ada tanda-tanda AHY apalgi SBY merangkul Gatot. Yang terjadi malah AHY membiarkannya seperti angin lalu saja. Karena SBY tahu yang memecat (pensiun tanpa uang negara) AHY adalah Gatot Nurmantyo.
Maksud pernyataan Gatot itu supaya dilirik SBY – AHY. Yang terjadi malah Gatot dicuekin Cikeas di hantam KLB Demokrat.