Baca Juga : Anies, JK dan HRS Menuju 2024
SEPERTI sudah di duga banyak pengamat yang realistis. Mengalahkan Ahok dengan program kerja agak sulit. Cara yang paling diterima dan bisa menjadi pendulang suara besar saat Pilkada Jakarta 2017. Dimainkan politik identitas. Hampir semua tempat ibadah di Jakarta menyuarakan hal ini. Jika tidak memilih Anies, maka lahir sampai mati tak akan diurus.
Pesannya mujarab. Melalui Kelompok FPI kampanye dan pesan Anies disampaikan dari soal lahir sampai mati. Anies dan JK memang tak memerintahkan politik identitas di gelorakan. Membiarkan dan mendiamkan, tanpa melarang atau mencegah. Itu sama dengan mengijinkan alias merestui. Dengan tujuan Anies menang. Cara apapun dilakukan
Sepertinya JK bisa dikatakan berperan (walaupun tak langsung) pada kampanye politik identitas dengan mendiamkan hal tersebut.
Kemudian, terkait HRS. Dalam acara webinar yang diselenggarakan PKS pada Senin (23/11/2020) JK mengucapkan soal kekosongan kepemimpinan. Petinggi PKS pun membela JK bahwa kekosongan yang dimaksud adalah kepemipinan umat Islam.
Namun pernyataan JK disampaikannya kekosongan kepemimpinan tanpa ada kata Islamnya. Petinggi PDIP pun menanggapi pernyataan JK dengan mengatakan bahwa tidak ada kekosongan kepemimpinan. Pemerintahan berjalan sesuai dengan arah dan tujuan yang jelas dan sesuai perintah Konstitusi.
Yang jelas dan pasti. Bahwa JK tidak memerintahkan politik identitas itu dengungkan. Mendiamkan dan tidak melarang kepada Anies, kemudian Anies tidak memberhentikan hal itu. Bisa dikatakan ikut dalam bagian tersebut.