pendidikan

Viral! Demi Bersekolah, Siswa di Pedalaman Nias Terjang Derasnya Sungai

Jumat, 11 September 2026 | 07:26 WIB
Mengintip kisah perjuangan siswa di Pedalaman Nias, Sumatera Utara yang menerjang derasnya arus sungai demi bisa bersekolah. (Instagram.com/@asdar.official)

NAWACITAPOST.COM — Perjuangan berat harus ditempuh anak-anak sekolah di wilayah pedalaman Nias, Sumatera Utara demi mendapatkan pendidikan.
 
Sebuah kisah nyata yang memperlihatkan keberanian seorang siswa bernama Asdar bersama adiknya menyeberangi sungai berarus deras kini viral dan menyita perhatian publik di media sosial.

Setiap hari, Asdar harus menerjang aliran sungai yang berisiko tinggi demi menuntut ilmu. Perjalanan ekstrem tersebut tidak hanya dilakukan sekali, melainkan berulang kali dalam sehari.
 
Baca Juga: Aksi Nekat Pendaki Ilegal Terobos Gunung Semeru Berakhir Sanksi Daftar Hitam

"Perjuangan kami anak sekolah di pedalaman kalau pulang sekolah," ungkap Asdar dikutip dalam unggahan Instagramnya, @asdar.official, pada Kamis (10/9/2026).

"Mungkin kalian bertanya, berapa kami kami harus melewati sungai itu, jawabannya 4 kali setiap hari," terangnya.

Terhalang Banjir dan Risiko Longsor

Medan yang dilalui Asdar dan adiknya jauh dari kata aman. Selain melintasi jalanan tanah berlumpur dan perbukitan, ancaman utama datang saat cuaca buruk melanda wilayah pedalaman tersebut. Perubahan cuaca yang drastis kerap menyulitkan perjalanan pulang mereka.

"Hari ini aku baru pulang sekolah bareng adikku. Saat ini pun kami terhalang arus sungai," kata Asdar.
 
Baca Juga: Suntikan APBN Rp11 Triliun: Pemerintah Bakal Buka Rekening Massal 200 Juta Warga

Ia menceritakan bahwa kondisi jalur yang mereka tempuh sangat bergantung pada cuaca. Saat hujan deras turun, debit air sungai meningkat dan memicu potensi bahaya di sepanjang lintasan.

"Saat pagi cuacannya masih bagus, namun saat sore hari justru hujan yang membuat area sekitar sungai licin dan rawan longsor," tutur Asdar.

Kondisi ini makin berat lantaran Asdar harus menjaga adik kecilnya yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan belum mampu melintasi arus sungai yang membesar seorang diri.

"Karena rumah kami jauh di pedalaman, dan adikku yang bersekolah SD takut melewati arus banjir, apalagi di sini banyak anak-anak SD lainnya," sambung Asdar.
 
Baca Juga: Jerat Trauma Orang Tua Usai Ratusan Siswa Pati Tumbang Diduga Keracunan MBG

Nekat Terjang Arus Demi Pulang

Ketiadaan fasilitas penyeberangan yang memadai memaksa Asdar mengambil keputusan berisiko tinggi. Setelah sempat bertahan dan menunggu di tepi sungai dalam kondisi basah kuyup, ia akhirnya memutuskan untuk menyeberangi sungai sambil menggendong adiknya.

"Setelah 2 jam menunggu hujan reda di pinggir sungai, kami tak tahan karena terlalu dingin karena diguyur hujan," ungkap Asdar.

"Akhirnya aku mengambil risiko untuk melewati sungai di sini sambil menggendong adikku," imbuhnya.

Guna memastikan keselamatan selama menembus derasnya arus, Asdar dan anak-anak sekolah lainnya harus saling berpegangan tangan agar tidak tersapu luapan air.
 
Baca Juga: DPR RI dan Kepala Desa Bersatu di Senayan demi Pembangunan Bangsa

"Saat melewati sungai pun kami perlu bergandengan agar bisa aman tidak terbawa arus dan akhirnya bisa melewatinya," tukasnya.

Potret perjuangan anak-anak di pedalaman Nias ini menjadi cerminan nyata dari gigihnya semangat generasi muda dalam menggapai cita-cita, meski harus mempertaruhkan keselamatan di tengah keterbatasan akses infrastruktur pendidikan.

Tags

Terkini