NAWACITAPOST.COM — Membeli mobil bekas dengan anggaran Rp100 jutaan memberikan sejumlah pilihan bagi konsumen. Di rentang harga tersebut, calon pembeli bisa mempertimbangkan mobil Low Cost Green Car (LCGC), Multi Purpose Vehicle (MPV), hingga Sport Utility Vehicle (SUV).
Namun, memilih mobil bekas murah tidak cukup hanya melihat tahun produksi, tampilan, atau kelengkapan fitur. Biaya perawatan, konsumsi BBM, usia kendaraan, hingga ketersediaan suku cadang juga perlu menjadi pertimbangan agar tidak membebani pengeluaran setelah mobil dibeli.
Setiap jenis kendaraan memiliki karakteristik dan kebutuhan perawatan berbeda. LCGC umumnya menawarkan efisiensi bahan bakar dan biaya operasional yang relatif terjangkau.
Sementara MPV lebih mengutamakan kapasitas penumpang, sedangkan SUV menawarkan karakter kendaraan dengan posisi berkendara dan ground clearance lebih tinggi.
Berdasarkan edukasi dari OLX, dalam artikelnya mengenai pertimbangan membeli mobil bekas mengingatkan bahwa setiap jenis kendaraan memiliki kebutuhan perawatan berbeda.
"Masing-masing jenis mobil punya cara dan harga berbeda dalam urusan perawatan," tulis OLX di situs resminya yang dilihat Kamis (5/11/2026).
LCGC: Pilihan untuk Mengejar Efisiensi
Bagi konsumen yang lebih banyak menggunakan mobil untuk aktivitas harian di dalam kota, LCGC bisa menjadi pilihan rasional. Beberapa model yang dapat dipertimbangkan antara lain Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Honda Brio Satya, Toyota Calya, dan Daihatsu Sigra.
Keunggulan utama mobil LCGC terletak pada kapasitas mesin yang relatif kecil sehingga konsumsi BBM cenderung lebih efisien. Selain itu, konstruksi kendaraan yang relatif sederhana membuat kebutuhan perawatan berkala lebih mudah dipenuhi.
Ketersediaan suku cadang juga menjadi salah satu pertimbangannya. Model seperti Agya, Ayla, Calya, dan Sigra memiliki jaringan layanan purnajual serta ekosistem komponen yang cukup luas. Hal ini dapat membantu konsumen ketika membutuhkan penggantian komponen.
Kekurangannya, sebagian LCGC memiliki fitur kenyamanan dan peredaman kabin yang lebih sederhana. Performa mesin juga perlu diperhatikan ketika mobil digunakan membawa penumpang penuh atau melintasi jalan menanjak.
MPV: Lebih Fleksibel untuk Kebutuhan Keluarga
Jika kebutuhan utamanya adalah membawa keluarga, MPV bekas bisa menjadi alternatif menarik. Dengan anggaran Rp100 jutaan, konsumen dapat mempertimbangkan Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Suzuki Ertiga, atau Nissan Grand Livina dari tahun produksi yang lebih lama.
Dibandingkan LCGC, MPV umumnya menawarkan ruang kabin lebih lega dan kenyamanan perjalanan yang lebih baik. Kapasitas penumpang hingga tujuh orang juga menjadi nilai tambah bagi keluarga yang sering bepergian bersama.
Namun, konsumen perlu memperhitungkan usia kendaraan. Dengan anggaran yang sama, MPV berukuran lebih besar umumnya memiliki tahun produksi lebih tua dibandingkan LCGC.
Kondisi mesin, transmisi, sistem pendingin, kaki-kaki, dan suspensi harus diperiksa secara menyeluruh. Komponen yang sudah mengalami keausan bisa menimbulkan biaya perbaikan cukup besar setelah transaksi pembelian.
Konsumsi BBM juga perlu diperhitungkan. Kapasitas mesin, bobot kendaraan, kondisi lalu lintas, dan gaya berkendara dapat membuat pengeluaran bahan bakar lebih tinggi dibandingkan LCGC.
Baca Juga: Jelang Hari Pahlawan 2026, Presiden Prabowo dan Fadli Zon Bahas Pemberian Gelar Pahlawan Nasional
SUV: Ground Clearance Lebih Tinggi tetapi Perlu Perhitungan
Pilihan berikutnya adalah SUV bekas. Dengan dana Rp100 jutaan, konsumen bisa menemukan beberapa model SUV generasi lama, seperti Nissan X-Trail generasi awal atau sejumlah SUV kompak dari tahun produksi yang lebih tua.
SUV menawarkan posisi berkendara lebih tinggi dan ground clearance yang umumnya lebih baik dibandingkan mobil penumpang biasa. Karakter tersebut bisa menjadi pertimbangan bagi konsumen yang sering melewati jalan dengan kondisi kurang baik.
Meski demikian, membeli SUV bekas membutuhkan perhatian lebih terhadap biaya kepemilikan. Kapasitas mesin, bobot kendaraan, penggunaan ban, hingga kompleksitas komponen tertentu dapat membuat biaya perawatan lebih besar.
Konsumen juga perlu memeriksa sistem penggerak, transmisi, kaki-kaki, dan kondisi suspensi. Pada kendaraan yang sudah berusia cukup lama, ketersediaan komponen tertentu perlu dipastikan terlebih dahulu.
Jangan Habiskan Seluruh Anggaran untuk Membeli Mobil
Selain menentukan jenis kendaraan, calon pembeli juga perlu memperhatikan kondisi unit yang akan dipinang. Mobil dengan harga lebih murah belum tentu menjadi pilihan paling ekonomis apabila membutuhkan banyak perbaikan setelah transaksi.
Dalam pembahasan yang disampaikan di OLX mengenai pembelian mobil bekas juga mengingatkan bahwa riwayat perawatan kendaraan dari pemilik langsung belum tentu lengkap atau terdokumentasi dengan baik.
Karena itu, calon pembeli perlu memeriksa catatan servis dan kondisi kendaraan secara menyeluruh.
Sebaiknya, konsumen tidak menggunakan seluruh dana Rp100 juta hanya untuk membayar harga kendaraan. Sisihkan anggaran tambahan untuk servis awal, penggantian oli, filter, cairan kendaraan, pemeriksaan rem, serta komponen lain sesuai hasil inspeksi.
Baca Juga: Di Bawah Komando Menkeu Suahasil Nazara, Suryo Utomo Kawal Teknologi dan Intelijen Keuangan Negara
Pemeriksaan riwayat servis, kelengkapan dokumen, nomor rangka, dan nomor mesin juga tidak boleh diabaikan. Jika memungkinkan, gunakan jasa inspeksi independen sebelum memutuskan membeli.
Pada akhirnya, pilihan mobil bekas Rp100 jutaan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan, bukan sekadar mengikuti tren atau tampilan kendaraan.
Jika prioritasnya mobil bekas irit BBM dan biaya operasional lebih terkendali, LCGC layak dipertimbangkan. MPV lebih sesuai untuk kebutuhan keluarga, sedangkan SUV bisa dipilih jika membutuhkan karakter kendaraan dengan ground clearance lebih tinggi.
Yang terpenting, jangan sampai mendapatkan mobil dengan harga murah, tetapi justru harus mengeluarkan biaya perbaikan besar setelah membelinya.(***)