Sebuah Study Pengamatan Pemilu 2024
NAWACITAPOST.COM - Nganjuk merupakan salah satu daerah di pulau jawa khususnya masuk wilayah Mataraman. Tradisi Jawa sangat kental di masyarakat Nganjuk, sehingga siapa saja yang ingin mendapatkan simpati masyarakat Nganjuk harus memahami karakter dan budaya Jawanya orang Nganjuk. Dalam bahasa yang lebih elit individual culture (kebiasaan pribadi) harus dipelajari dan dikuasai.
Individual culture merupakan potret dasar sikap pribadi perorangan, yang akhirnya akan meluas menjadi Sosial Culture (kebiasaan masyarakat), sebuah kelompok komunitas masyarakat berbasis Desa, Kecamatan bahkan sampai Kabupaten.
Baca Juga: Menyelami Politik Uang Dalam Kompetisi Pilkada
Keikhlasan sikap masyarakat Nganjuk berbasis individual culture, seperti menghormati setiap orang, menghargai pendapat orang, memberikan apresiasi pada pemberian orang, berterima kasih atas apa yang diberikan orang, menghargai kepedulian orang merupakan sebuah contoh sikap individu yang melekat dalam kehidupan sehari - hari.
Semua nilai luhur yang dilakukan masyarakat Nganjuk hakikatnya sangat mulia, namun sikap tersebut menjadi berubah ketika para aktifis politik pelan - pelan memberikan pelajaran yang kurang sejalan dengan tradisi baik tersebut.
Baca Juga: Bunda Ita Maju Cabup Nganjuk, Pertarungan Politik Semakin Seru!!
Bahkan sikap individual culture tersebut akhirnya meluas menjadi sosial culture, bahkan sekarang sedang meningkat pada national culture. Artinya tradisi personal melebar ke sosial dalam sekup lebih luas hingga akhirnya seluruh rakyat Indonesia terkenal gejala politik uang dalam dalam segala Ivent politik.
Berikut ini beberapa contoh dan jenis perilaku dan pemikiran politik yang berkembang selama pemilu tahun 2024, yang bersinggungan langsung dengan perilaku pemilih yang ada di Nganjuk:
Baca Juga: Membayangkan NU Nganjuk Tetap Menjadi Pemenang Dalam Pilkada Bupati 2024
- Setiap calon melakukan sosialisasi atau penggalangan suara menggunakan kader disetiap RT, Dusun, bahkan Kordes yang selalu diberi uang transport. Kalau uang transport tidak sesuai pasti kinerjanya juga tidak bisa maksimal.
- Masyarakat memahami calon anggota DPRD adalah orang yang ingin jabatan, maka dia harus mau berkorban untuk mendapatkan simpati atau ingin dipilih.
- Masyarakat memahami calon memberikan uang transport adalah sebuah kewajiban seorang calon sebagai ganti meninggalkan pekerjaan sehari.
- Ada sebuah partai yang menggunakan konsultan politik, partai tersebut memberikan transpor dengan nilai di atas Rp 150.000 (seratus lima puluh ribu rupiah) untuk memilih 3 kandidat, langkah tersebut lebih jitu dari pada 1 amplop isi Rp 50.000 (lima puluh ribu rupiah) saja, bahkan ada yang memberi Rp 200.000 (dua ratus ribu rupiah), ada calon yang menaikkan Rp 300.000 (tiga ratus ribu rupiah) yang dipilih yang memberi Rp 300.000 (tiga ratus ribu rupiah).
- Masyarakat akan menghargai kehadiran seorang calon yang langsung ke rumahnya, apalagi memberi sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih. Tindakan tersebut akan merubah keyakinan orang yang didatangi. Mereka berpaling karena calon lain tidak datang, namun hanya lewat tim suksesnya saja.
- Tokoh masyarakat tidak bisa dijadikan andalan untuk mendulang suara, karena masyarakat sudah pintar siapa yang layak dipilih sebagai wakilnya.
- Perjuangan politisi berupa pembangunan insfrastruktur jalan, jembatan atau bantuan lainnya hanya sebagai bahan cerita saat reses atau konsolidasi pemilih dan kader. Semua harus ada amunisi dan gizi.
- Kampanye politik yang disukai adalah pemberian bantuan sembako atau pengobatan gratis.
- Masyarakat akan memilih seorang calon yang dianggap idola karena pernah melakukan sesuatu yang berarti padanya.
- Masyarakat suka pemimpin yang merakyat dan memiliki kepedulian ketika di butuhkan sewaktu - waktu.
- Pemilih idiologis sulit dipengaruhi karena pengaruh sejarah perjuangan masa lalu.
- Kekecewaan pemilih idiologis terjadi ketika kepedulian dan perjuangan sebagai kader tidak diimbangi dengan perbuatan yang berarti bagi kelompoknya.
Baca Juga: Mencermati Ritual Pilkada Antara Drama dan Realita
Sebuah catatan sederhana potret perilaku pemilih dalam pemilu 2024. Catatan ini tidak menjustifikasi apalagi memvonis. Semua berasal dari pernik - pernik peristiwa yang terjadi saat proses pemilu dilakukan. Semoga memberi inspirasi bagi siapa saja yang ingin berbuat Nganjuk menjadi lebih baik dimasa yang akan datang!!!
Nganjuk, 15 Juni 2024
Penulis HM Basori M.Si
Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocacy