Sebagai raja mimpi kita menyabdakan titah dan perintah,
Dan lalu puja-puji kita terima,
Berbubuh tulisan angin yang habis bertiup,
Sisanya; hanya debu di jalanan.
Bila sehembus nafas akhir segala,
Di mana letak keuntungan singasana kita, Kawan ?
Nantinya semua pasti punah dan segera dilupa kita.
Kawan, si kaya mimpikan tentang harta dan ngeri,
Ngeri oleh takut kan punah segala harta.
Sementara yang miskin mimpikan serba butuh,
Tentang segala tangis dan serba sangsai;
Mimpi umur meningkat tinggi,
Mimpi munafik dan punya prasangka,
Mimpi mencaci maki semua lawan.
Dan aku melihat di seantero dunia ini;
Orang mimpi mendasarkan wataknya sendiri.
Baca Juga: Bicara Demokrasi, Yuk Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 4 Februari
Kawan, sebentar lagi senja kan berganti malam,
Lepaskan mimpimu dari ikatan rantai sepi,
Karena mimpi deritamu kini
Bersumber pada kemujuran hidup yang lah lewat.
Apakah hidup senja, Kawan ?
Sebuah kisah yang cepat tamat.
Apakah hidup senja, Kawan ?
Suatu kegilaan mendidih,
Suatu bayangan benda-benda khayali,
Ya hanya khayali kita sendiri.
Kawan, hidup kita tak ajal hanya mimpi maknanya.
Dan impian itu sendiri adalah mimpi.
Nganjuk, 24 Februari 2024
Dienza Agoestha
Puisi Untuk Kawan Senjaku III
Manusia merdeka, lautan selalu dalam minatmu.
Laut itu cerminmu, dan kau renungi jiwamu.
Dalam gulungan ombak yang abadi bertalu,
Dan bagai kuburnya sangsai, begitu jurang rohmu.
Baca Juga: Puisi Seorang Penyair Yang Belum Selesai
Kau senang menduga sampai ke dasar wajahmu
Kau peluk ia dengan pandang dan lengan.
Dan kadang hatimu bingung karena kebuncahan sendiri,
Kala dengar berontak dan liar risau itu.
Kau dua-duanya ajaib dan penuh rahasia
Tiada insan yang sanggup menyelami rohmu
O..., laut tiada yang tahu itu harta dalam kandungmu
Demikian besar cemburumu menyimpan rahasia itu
Betapa pun, sejak berabad-abad dilupa sudah kapannya
Kau telah berjuang tak kenal belas walau sesalan
Demikian besar kau cinta maut dan pembunuhan
Wahai saudara-saudaraku, yang tak henti perjuanganmu untuk hidup.