NAWACITAPOST.COM - Mau mengungkapkan rasa kepada kawan dan teman, namun mungkin tidak bisa secara langsung dikarenakan adanya situasi kondisi yang tidak memungkinkan.
Kalau situasi dan kondisi tidak memungkinkan, mungkin bisa melalui puisi karya Dienza Agoestha, yuk baca:
Kepada Kawan Dan Teman
Apa yang hendak kita perjuangkan ?
Hasrat kita ?
Merebut hak kita kembali ?
... ... Tidak !
Bukan harta atau nama,
Pun bukan peristiwa fana di niat,
Tapi wujud hati yang suci,
Membangun negeri.
Baca Juga: Bicara Demokrasi, Yuk Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 4 Februari
Tujuan bukan hendak kuasa-menguasai,
Tapi sekedar nanti di masa depan;
Kita dapat lagi duduk bersama,
Bukan untuk memaksa orang,
Tapi untuk mendengar derit roda becak,
yang lagi menarik penumpang di sepanjang jalan.
Bukan untuk memaksa orang,
Mengikut kita !
Tapi mengajak pulang,
Dan hidup damai sebagai satu keluarga,
Makan nasi milik sendiri.
Jalan lurus dan tak kenal ngeri,
Menjalani gemintang cobaan dalam satu dekapan.
Baca Juga: Suatu Sore Lebih Bermakna, Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 1 - 2 Februari
Dan di saat fajar mengusik hari,
Lintas jendela lalu saling menjenguk.
Pada dahan-dahan bermanikam usai hujan,
Dijumpa bersalaman dalam kerabat,
Bukan untuk seberapa, tapi dalam segala.
Bisakah ?
Bilakah
Kalau ketua mahkamah sudah dihabisi majelis kehormatannya.
Kalau komisi pemilihan sudah dihabisi dewan kehormatan penyelenggara pemilihannya,
Kalau kampus sudah begitu lantang menyuarakan etika demokrasi yang dilanggar presiden di negerinya,
Kalau rakyat akan menghabisi dan menghancurkan boneka mainan hasil produknya yang cacat dan salah,
Benarkah itu yang kau tunggu ?
Baca Juga: Suatu Sore Lebih Bermakna, Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 1 - 2 Februari
Bilakah etika demokrasi akan lebih tegak menyanubari di negeri ini, Kawan ?
Kau tidak sedang menantang sembilan delapan terulang, bukan ?