Wisata pantai Mapadegat memang sudah menjadi salah satu primadona bagi masyarakat. Terutama bagi pengunjung yang menghabiskan akhir pekan bersama keluarga. Mulai dengan menikmati indahnya oasir putih, berenang, hingga menyaksikan sunsite atau tenggelamnya matahari diufuk barat.
Selain mudah diakses, karena berada lebih kurang 4 kilometer dari pelabuhan Tuapejat, kawasan ini juga belum ada dipungut iuran masuk alias gratis. Siapa saja, dan kapan saja, bisa datang ke kawasan ini. Kelebihannya, dari kawasan ini, yakni, lokasinya terpisah dari pemukiman warga.
Ke kiri, dari landmark atau tugu Mapadegat, sekitar 1 kilometer kita bisa mendapati Kawasan Wisata Pantai Mapadegat yang familiar di tengah masyarakat yang disebut homestay, (meski bukan sebuah homestay, red) yang dibangun oleh Pemkab Mentawai. Sayangnya, bangunan tersebut, tidak terkelola dengan baik. Baru, sekitar tahun 2017, kawasan ini kembali ditata ulang.
Meski pembangunannya belum optimal, tahun 2019 kawasan ini sudah dibuka untuk umum. Bahkan, kolam buatan dengan diameter 50 meter itu menjadi ajang berswafoto bagi pengunjung di lokasi jembatan penghubung antar kolam. Hanya saja, kawasan ini belum banyak sentuhan.
Termasuk juga, arena bermain, seperti banana boot dan yang lainnya. Bila ini dikembangkan, tentu akan lebih memiliki daya tarik tersendiri. Tidak semata-mata meniru objek wisata daerah lain. Wisata dengan kearifan lokal juga bisa dikembangkan untuk menari pengunjung, misalnya, dengan menghadirkan atraksi budaya Mentawai yang jelas memiliki kekhasan tersendiri.
Sepanjang pantai, juga bisa dibuat usaha ekonomi kreatif dengan menjual berbagai sauvenir khas Mentawai. Jika orang berkunjung ke Mentawai, mereka tidak akan susah payah mencari oleh-oleh khas Mentawai. Usaha konveksi atau sablon baju belum banyak terlihat. Memang, Pemkab juga tidak bisa berjalan sendiri dalam mengelola wisata. Butuh investor atau pihak ketiga, termasuk juga komitmen dari pelaku wisata itu sendiri.
Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga Kepulauan Mentawai, Joni Anwar beberapa waktu lalu, pun mengakui hal tersebut. Dia mengatakan, perlu sentuhan pihak ketiga dalam mengelola kawasan tersebut.
-
Berdasarkan, perencanaan, kata dia, kawasan wisata pantai Mapaddegat tersebut, akan dibangun landmark, gazebo dan juga air menari di kolam. Dia meyakini, kawasan ini akan berdampak terhadap perekonomian masyarakat. “Wisata pantai Mapaddegat ini akan menghidupkan UMKM, pelaku usaha sauvenir dan juga rumah makan. Ini target kita pada tahun 2021. Sayangnya, saat ini, kita masih belum bisa berbuat banyak, karena masih menghadapi pandemi Covid-19,” ungkapnya.
Di sisi lain, kadis yang memimpin pariwisata Mentawai semenjak tahun 2018 ini, menyebutkan, pariwisata Mentawai merupakan salah satu penyumbang tertinggi jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumatera Barat. Namun, hal ini, kata dia, masih dipandang sebelah mata oleh Pemerintah Provinsi Sumbar.
“Harusnya pariwisata Mentawai dilirik oleh Pemprov Sumbar. Buktinya, selama ini, belum ada serupiah pun anggaran dari Provinsi untuk pembangunan destinasi wisata di Mentawai. Padahal, pariwisata Mentawai penyumbang kunjungan wisatawan tertinggi di Sumatera Barat,” ungkapnya.
Saat ini, kata dia, tantangan membangun destinasi pariwisata Mentawai hanya soal anggaran saja. Selama ini, kata dia, pembangunan pariwisata Mentawai masih bergantung dari Dana Alokasi Khusus (DAK) atau anggaran pusat. Butuh dukungan dari semua stakeholder dalam mengembangkan pariwisata Mentawai ini.
Namun, perlahan tapi pasti, potensi ini, kini juga mulai menarik perhatian pelaku wisata, terutama masyarakat lokal. Itu dibuktikan dengan bertumbuhnya kafe-kafe di sepanjang pantai Mapaddegat. Saat ini, sudah ada belasan kafe yang berdiri di sepanjang pantai tersebut. Kondisi ini, sangat kontras dengan wisata pantai Mapadegat 5 tahun belakangan.
-
Salah satu kafe yang cukup diminati oleh pengunjung, saat ini, yakni, Sikokong Kafe “Batu Putih” yang berada di sisi kanan landmark Mapadegat atau berjarak lebih kurang 700 meter dari Kafe Simagirau. Kafe ini, buka setiap hari mulai pukul 15.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Khusus akhir pekan, Sabtu-Minggu kafe ini buka mulai pagi hingga pukul 02.00 WIB dini hari.
Selain menyuguhkan berbagai menu makanan dan tampilan kafe yang khas uma Mentawai, dengan luas kawasan 350 meter x 50 meter ini, juga menampilkan pesona lampu hias dengan berbagai warna yang menyejukkan pandangan mata di malam hari. Sayangnya, kawasan sepanjang 700 meter ini, juga belum tersentuh penerangan listrik dari PLN.
-
Owner atau pemilik Sikokong Kafe, Rudal Patriot Sababalat mengatakan, bahwa, keinginan membuka usaha wisata tersebut, agar bisa menginspirasi masyarakat lokal lainnya. Menurut dia, selama ini, masyarakat Mentawai hanya baru sebagai penonton atau penikmat semata. Untuk itu, dia ingin apa yang dilakoninya sejak 8 Maret 2021 tersebut, bisa ditiru oleh anak-anak Mentawai yang lain.
“Saya memulai usaha ini, dimulai dengan keberanian saja. Bahkan, keluarga juga sempat meragukannya. Sekarang, saya bisa buktikan dan juga mulai mendapat kepercayaan dari keluarga. Kawasan terbuka untuk siapa saja,” ungkap pria tamatan Akademi Pariwisata Bunda (APB) Padang tahun 2014 ini.
Bahkan, dia mengatakan, siap untuk menyewakan separuh atau seperempat dari kawasannya tersebut, bagi pengusaha wisata yang ingin mengembangkan usaha wisata di Mentawai. Dana sewa tempat tersebut, nantinya, kata dia, akan digunakan pengembangan usahanya tersebut.
-
Saat ini, kata dia, kawasan ini, baru memiliki sejumlah arena bermain, selain arena yang sudah alami yakni, tempat berenang. Di lokasi tersebut, pengunjung keluarga disuguhkan arena adukasi atay asah otak anak dengan mewarnai gambar. Setiap anak dapat mewarnai sebuah gambar dengan harga per gambar yang telah disediakan Rp 15 ribu saja. Selain itu, juga ada arena memancing ikan mainan.
Dia berharap, jaringan listrik ke kawasan tersebut, bisa segera terwujud. Dia mengaku, juga sudah menyurati pihak PLN Tuapejat untuk ketersediaan aliran listrik ke kawasan tersebut. Ke depan, dia juga bercita untuk membuat arena bermain lainnya, seperti sepeda santai dan juga membuat kolam renang di kawasan tersebut.
“Banyak sebetulnya yang ingin saya kembangkan di sini. Namun, semua itu tergantung dengan modal. Untuk meminjam ke bank saya belum berani. Sebab, saya buka usaha ini juga dibantu oleh adik-adik. Tentu butuh biaya operasionalnya,” ungkap suami dari Santika Putri, 28, dan anak Rumi Sababalat, 5, ini.
Dalam kondisi hari biasa, kata dia, bisa mendapatkan penghasilan Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. Namun, untuk akhir pekan, bisa Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Hingga sekarang, kata dia, modal usaha yang telah dirintisnya tersebut, sudah menghabiskan anggaran lebih kurang Rp 100 juta. Sikokong Kafe ini, juga pernah dikunjungi oleh Bupati dan Wakil Bupati Kepulauan Mentawai bersama ketua DPD KNPI Sumbar Fadly Amran yang juga walikota Padang Panjang pada Agustus 2021 lalu.
Simak informasi menarik lainnya di Youtube NAWACITA TV
https://youtu.be/vgQsprieHvg