Foto : Pelatihan Pembuatan Pupuk, Pestisida dan Jakulah Teteh
Kepala Dinperpa Zainul Hakim, SH.MHum. menyampaikan bahwa bahan baku yang dimanfaatkan untuk kesejahteraan ini bisa ditularkan luas ke masyarakat. “Hari ini Dinas Pertanian dan Pangan Kota Pekalongan kembali menyelenggarakan kegiatan pembuatan pestisida hayati maupun pupuk organik cair atau pupuk hayati juga. Kemudian kelompok sasarannya ini Kelompok Tani maupun Kelompok Pengembang Pangan Lestari (P2L) atau KRPL. Harapannya nanti bahan bakunya ini nanti dari alam. Berupa buah – buahan. Nanti misalkan untuk pembuatan pestisida hayati ini ada buah maja. Kemudian tadi ada semacam jahe, lengkuas, juga ada temulawak, temuireng,” paparnya.
-
“Nah kemudian untuk pupuk cair tadi ada jagung, kemudian juga ada susu, ada aloe vera atau lidah buaya. Harapannya bagi kelompok ini bisa mengembangkan di kelompoknya sesuai dengan arahan atau kebijakan dari Kementerian Pertanian kedepan. Justru lebih diarahkan orientasinya untuk penggunaan baik pestisida, pengusir atau pembasmi hama maupun pupuk untuk menyuburkan tanaman ini semuanya menggunakan hayati. Ini dimaksud agar produk hasil tanaman pangan ini ramah terhadap tubuh kita, konsumen maupun ramah juga terhadap lingkungan. Tidak membahayakan lingkungan. Karena otomatis dia akan kembali menyesuaikan dengan kondisi lingkungannya. Tidak meninggalkan bekas – bekas kimiawi,” lanjut Kepala Dinperpa.
-
Zainul Hakim menambahkan bahwa ini memang dirutinkan selama tahun 2021 karena memang selaras juga dengan visi misi program 100 hari kerja Wali Kota H. Achmad Afzan Arslan Djunaid, SE (Aaf) dan Wakilnya H. Salahudin, STP untuk Kota Pekalongan. “Ya ini rutin dilakukan tahun 2021. Kemarin juga mendukung program 100 hari kerja Wali Kota. Harapannya nanti yang ikut budidaya ini bisa memelihara tanamannya untuk misalkan tadi mengusir hama atau membasmi hama dengan hayati. Kemudian juga untuk penyuburnya menggunakan pupuk organik cair. Cuma 1 hari pelatihannya. 2 jenis produk pestisida hayati maupun pupuk cair ini kita laksanakan dalam 1 hari ini,” tambahnya.
BACA JUGA: DPP FORNISEL Mempertanyakan Mahalnya Biaya Urus SKCK di Nias Selatan
“Tapi tadi setelah ada teori sedikit dari narasumber kemudian langsung praktek di lapangan, ini kita lihat antusiasme dari peserta untuk mengikuti dan langsung praktek. Harapannya nanti ini bisa dikembangkan. Nanti mungkin kedepannya untuk pelatihan lebih lanjut ada. Kan ini menjelang bulan suci Ramadhan ya. Ini juga dilihat dari aspek tanaman pangan khususnya padi ini kan masa – masa untuk menanam dan memberikan pupuk. Jadi di Pekalongan ini sebagaimana kami sampaikan. Ada dua kali masa tanam dan dua kali masa panen. Yaitu pertama Oktober – Maret. Kemudian nanti yang kedua ini sudah masuk April – September. Jadi ini kesempatan yang baik ketika petani membutuhkan. Apalagi sekarang harga pupuk relatif cukup mahal,” imbuh Kepala Dinperpa.
-
Menurut Zainul Hakim, pupuk cair ini sebenarnya lebih murah dan ramah lingkungan. “Dan nanti produk hasil tanaman pangannya juga ramah bagi tubuh. Tentunya ini mencoba untuk melatih memberdayakan petani, memanfaatkan bahan – bahan baku di sekitar. Nanti diolah. Dibuat sesuai kebutuhan baik untuk pestisida maupun untuk pupuk cair,” tandasnya. Sementara Wasis Kartono dari POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman) sebagai narasumber mengungkapkan. Bahwa adapun macam bahan yang digunakan untuk memanfaatkan organik ini. Rencananya akan terus dikembangkan dengan memanfaatkan bahan alami lain.
-
“Dinas Pertanian dan Pangan mengadakan pelatihan pembuatan pestisida hayati atau pestisida nabati, jakulah teteh dan pembuatan POC+. Artinya juga selain POC bisa digunakan untuk pestisida. Untuk pembuatan pestisida hayati itu kita menggunakan ada 7 macam bahan. Yang pertama jahe 1 bagian, yang kedua kunir 1 bagian. Yang ketiga laos 1 bagian. Yang keempat temulawak 1 bagian. Yang kelima temuireng 1 bagian. Artinya bagian itu bisa perkg bisa perons. Jadi masing – masing sama. Yang keenam ada pemicu yaitu bakteri. Perlu ditambah air kelapa dan air. Semuanya diparut atau ditumbuk jadi 1. Kemudian diperas dengan air kelapa dan air biasa sebanyak 705 liter. Setelah itu didiamkan selama 10 sampai 15 hari. Baru bisa diaplikasikan,” papar Wasis Kartono lebih lanjut.
-
Wasis Kartono juga menjelaskan bahwa aplikasi ini bisa digunakan untuk padi, tanaman pisang yang terkena infeksi (buahnya hitam), cabai dan tanaman hias serta tanaman lainnya. Adapun kelebihan yang dimiliki. “Kelebihan jelas, lebih jelas. Tidak menggunakan bahan kimia. Yang kedua lebih murah. Bahan – bahan kita cari mudah. Kelemahannya itu petani itu rata – rata malas untuk membuat. Jadi ini yang kita pacu supaya petani mau membuat itu. Kita sudah coba di beberapa tempat. Alhamdulillah hasilnya sangat bagus. Dari teman – teman yang tadi insha Allah semua ingin membuat. Paling kesulitannya buah maja saja kalau banyak agak sulit mencari. Itu masih kita kaji untuk pengganti buah maja dengan yang lain,” jelasnya.
-
“Rencana kita akan ganti dengan pisang klutuk. Selama ini bisa tumbuh dimana – mana dan tidak terkena hama. Tanah yang becek ya bisa. Tanah yang kering ya bisa tumbuh. Itu masih dalam perencanaan. Ya ciri kalau sampai mungkin selesai fermentasi 15 hari, terus kita buka. Ada gasnya. Teman – teman bawa itu nanti akan tumbuh. Sampai tutup botolnya lepas. Baunya masih tetap jamu. Tidak bau apa – apa. Kalau untuk POC baunya khas, manis. Kalau gagal, baunya tidak enak. Ada kaya ulat kecil kalau gagal dalam proses atau yang sudah jadi. Proses penyimpanan disarankan di botol atau dirigen plastik, elastis dan tidak karat. Tertutup rapat tidak terkena sinar matahari,” imbuh POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman).
-
POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman) pun memiliki harapan akan siapa saja yang sudah mengikuti pelatihan bisa menularkan ke yang lain. “Harapannya bisa kembali membuat apa yang kita berikan. Bisa berkembang dan ditularkan ke masyarakat yang lain. Kedepan bisa mengorganikkan petani, petani bisa mengorganikkan masyarakat,” tukasnya. Salah satu warga dari PKK Kelurahan Banyurip Ageng Sulihan pun mengapresiasi langkah ini. “Kita bisa menyalurkan ke teman – teman yang lain supaya kita bisa menanam yang lebih sehat dan subur tanpa kita menimba ilmu kemana – mana. Diajarkan pembuatan pupuk organik hayati dan pembuatan cairan pestisida secara hayati. Sangat bermanfaat. Harapannya kita dapat menyalurkan ke teman – temn atau kelompok PKK. Tidak pakai bahan kimia yang lain,” ungkapnya. (Herdy Ramahwan/Ayu Yulia Yang)