NAWACITAPOST.COM — Di hadapan delegasi dan pemimpin kota se Asia Pasifik, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, memaparkan strategi krusial serta pencapaian dramatis dalam mentransformasi wajah tata kelola lingkungan Ibu Kota.
Berbicara pada pembukaan Pertemuan ke-46 Komite Eksekutif CityNet (The 46th CityNet Executive Committee Meeting) di Hotel Pullman Jakarta, Selasa (3/11/2026), Pramono menegaskan keseriusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam menjinakkan bom waktu ekologis berupa akumulasi sampah perkotaan.
Jakarta saat ini harus bergelut memproses beban ekstrem berupa produksi sampah harian yang menembus angka fantastis, yakni sekitar 9.000 ton per hari.
Dalam forum internasional berbobot tinggi tersebut, Gubernur Pramono Anung menonjolkan bagaimana DKI Jakarta tidak hanya bertahan, tetapi aktif mengambil langkah mendasar lewat terobosan sistemik berbasis keterlibatan publik yang secara masif mampu mengubah lanskap keberlanjutan kota.
Di bawah kepemimpinannya, Pemprov DKI Jakarta menggalakkan secara intensif gerakan "Pilah Sampah". Kebijakan strategis ini menyasar hulu permasalahan dengan mendorong masyarakat melakukan pemilahan sampah sejak dari tingkat rumah tangga sebelum dialirkan ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Melalui intervensi konsisten tersebut, beban residu di TPA dapat dipangkas secara dramatis sekaligus mengoptimalkan rantai olah ulang sampah secara meluas.
Keberhasilan program gerakan sosial-ekologis ini dibuktikan dengan lonjakan partisipasi publik yang sangat signifikan hanya dalam kurun waktu kuran dari setengah tahun.
Gubernur Pramono memaparkan bahwa kesadaran warga dalam memilah sampah melompat tinggi, sebuah bukti nyata perubahan perilaku kolektif yang berhasil diartikulasikan Pemprov DKI Jakarta di lapangan.
“Salah satu prioritas utama kami adalah menciptakan lingkungan yang lebih bersih karena sebuah kota menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah setiap hari. Melalui gerakan ‘Pilah Sampah’, proporsi rumah tangga yang memilah sampah telah meningkat dari 6 persen pada bulan Mei menjadi hampir 35 persen pada Oktober 2026,” ucap Pramono tegas di depan para delegasi manca negara.
Lompatan statistik dari partisipasi 6 persen pada Mei 2026 menjadi hampir 35 persen pada Oktober 2026 menggambarkan eskalasi kesadaran publik yang luar biasa.
Menurut Pramono, keberhasilan mengelola kota bermetabolisme tinggi seperti Jakarta mustahil bertumpu semata pada regulasi top-down atau kapasitas teknis birokrasi, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat serta kolaborasi multisektoral yang solid.
Atas dasar itulah, Gubernur Pramono Anung memanfaatkan mimbar diplomasi CityNet tahun ini—yang mengusung tema Driving Circular Innovation for Urban Resilience (Mendorong Inovasi Sirkular untuk Ketahanan Perkotaan)—untuk menyuarakan seruan aksi bersama.
Ia mengajak seluruh kota di kawasan Asia-Pasifik melipatgandakan sinergi regional guna menyikapi ancaman krisis lingkungan, perubahan iklim ekstrem, hingga kebutuhan sistem transportasi publik berkelanjutan.
“Saya berharap kita dapat belajar satu sama lain, membagi solusi praktis dan membangun kemitraan yang memberi manfaat bagi kota dan komunitas kita,” pungkasnya.
Kerangka kerja penataan lingkungan yang diusung Pemprov DKI Jakarta di bawah arahan Gubernur Pramono Anung tak berhenti pada manajemen limbah padat semata.
Jakarta terus memacu integrasi transportasi publik modern sebagai tulang punggung mobilitas rendah emisi, menyinergikan MRT, LRT, Transjakarta, JakLingko, hingga Mikrotrans.
Sebagai komitmen konkret menuju kota netral karbon, Pemprov DKI Jakarta telah menetapkan target ambisius: menuntaskan pembaruan total seluruh armada Transjakarta menjadi berbasis bus listrik sepenuhnya (fully electric bus) pada tahun 2030.
Langkah komprehensif dari hulu ke hilir ini mempertegas posisi Jakarta di bawah kepemimpinan Pramono Anung Wibowo sebagai salah satu pelopor ketahanan perkotaan berbasis inovasi sirkular di kawasan regional.(Fifi Abdurahman)