BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?
Foto : Ketum PPNI, Harif Fadhillah bersama jajaran pengurus PPNI
Masa iitu, perawat sudah memiliki perkumpulan sebagai wadah organisasi perawat. Dapat menjalankan pergerakan dalam menentukan martabat profesi perawat. Terdapat beberapa organisasi. Diantaranya Perkumpulan Kaum Verpleger fster Indonesia (PKVI), Persatuan Djuru Kesehatan Indonesia (PDKI), Persatuan Perawat Indonesia (PPI) dan Ikatan Perawat Indonesia (IPI). Organisasi perawat mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh IPI, PPI dam PDKI dan hadir pula Ojo Radiat, HB. Barnas dan Drs. Maskoed Soerjasumantri. Bertindak sebagai pimpinan sidang dan sepakat. Yakni untuk melakukan fusi organisasi dan menyatukan diri dalam satu wadah organisasi yang kala dulu masih bernama Persatuan Perawat Nasional. Pengabungan atau fusi organisasi perawat dilakukan di Ruang Demontration Jl. Prof Eykman Bandung No.34 Bandung Jawa Barat. Kemudian disetujui dan dilakukan pernyataan bersama terbentuknya PPNI. Kemudian membentuk suatu kepanitian untuk mempersiapkan Kongres Pertama yang dilangsungkan pada tahun 1976.
BACA JUGA: Jokowi Ahok Basmi Mafia Migas Sembari Buktikan Solar Tak Lagi Impor
-
PPNI berkomitmen untuk memberikan perlindungan bagi masyarakat dan profesi keperawatan. Yaitu dengan menyusun RUU keperawatan yang terus diperjuangkan untuk disahkan menjadi Undang - Undang. Dalam usianya yang tergolong produktif, PPNI telah tumbuh untuk menjadi organisasi yang mandiri. PPNI sedang berproses pada kematangan organisasi. Mempersiapkan anggotanya dalam berperan nyata pada masyarakat. Memperkecil kesenjangan dalam pelayanan kesehatan. Mempermudah masyarakat dalam mendapatkan akses pelayanan kesehatan. Mendapatkan kesamaan pelayanan yang berkualitas (closing the gap; increasing acces and equity). Selanjutnya PPNI bersama anggotanya akan besama mengkawal profesi keperawatan Indonesia pada arah yang benar. Sehingga profesi keperawatan dapat mandiri dan bermartabat dan bersaing secara Nasional dan International.
BACA JUGA: Yasonna Laoly Ketagihan Gowes, Lebih Merakyat, Dikasih Reward dari Jokowi
-
PPNI kini memang sudah dapat diperhitungkan terhadap organisasi lain. Diakui oleh organisasi lain sebagai organisasi yang menjangkau nasional. Bisa memberikan kontribusi luar biasa dari tenaga kesehatan untuk masyarakat. Bahkan bisa menunjukkan solidaritas Pengurus PPNI DPW hingga DPD Kabupaten dan atau Kota. Padahal sebelumnya sempat ada kesalahan pemahaman untuk tingkatan organisasi. PPNI berjalan pada 3 visi penting diutamakan. Disayangi anggota, dicintai pemerintah dan disegani organisasi lain. Terbukti dengan setiap anggota selalu dipenuhi kebutuhannya. Kemudian juga selalu berjalan dengan program Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Tidak pernah menolak. Hanya apabila menemui tidak sepaham, akan memberikan pandangan - pandangan. Bukan memutuskan tidak setuju atau frontal. Ikuti maunya dan masuk ke dalam. Mengikutkan Kementerian lain untuk berdialog bersama. Nantinya Kemenkes yang akan memutuskan usai diberikan pandangan melalui dialog.
BACA JUGA: Jokowi Kalahkan Telak Donald Trump
-
PPNI selalu berupaya menjalankan fungsi dan tugasnya sejalan dengan pemerintah. Kini sedang berada dalam kepemimpinan Jokowi. PPNI memang merasa bangga dengan Jokowi lantaran mau mencatat sendiri setiap masukan yang ada dari masyarakat. Mau sering mengundang PPNI untuk ke istana melalui Ketua Umum PPNI, Harif Fadhillah. Sehingga PPNI terus berupaya untuk menyinergikan segala hal dengan bergerak bersama pemerintah. Seperti contohnya Program Perawat Desa. Diajukan masing – masing wilayah desa memiliki perawat. Agar masyarakat bisa lebih terbantu dalam penanganan kesehatan. Membantu pemerintah juga untuk mudah mengecek skala tingkat kesehatan masyarakat di seluruh Indonesia. Maka berharap, semoga ke depan program Perawat Desa bisa berjalan menasional. (Ayu Yulia Yang)
BACA JUGA: Jokowi Dianggap Pro China, Luhut Bantah Investasi China Justru Menguntungkan