Namun, ada plot yang janggal. Ketika wartawan meminta data rinci untuk membuktikan keberhasilan 22 operasi tersebut, Sondy mendadak mengunci rapat informasi dengan dalih "etika pribadi". Sebuah alasan yang dinilai publik kontradiktif dengan asas keterbukaan informasi publik.
Skala Prioritas atau Tameng Alibi?
Sikap slow respons di awal via WhatsApp hingga gaya bertahan (defensif) saat tatap muka memperlihatkan adanya celah menganga dalam komunikasi publik dan sistem pengawasan Bea Cukai Sibolga.
Kini, publik tidak butuh lagi alasan teknis, cerita kucing-kucingan di lapangan, atau drama brosur yang dicabut. Masyarakat menanti aksi nyata yang berani menyapu bersih aktor intelektual dan rantai distribusi utama rokok ilegal, bukan sekadar merazia warung kecil.
Apakah "skala prioritas" yang diagungkan Bea Cukai Sibolga benar-benar ampuh menyelamatkan uang negara, atau justru hanya menjadi tameng retorika di tengah suburnya peredaran rokok ilegal? Waktu yang akan menjawab. (Jhon henri silaban/ss)