NAWACITAPOST.COM – Ketika air bah yang meluluhlantakkan Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara di penghujung tahun 2025 menyurut, yang tersisa bukan sekadar lumpur pekat dan puing reruntuhan. Di balik bencana tersebut, kini tertinggal sebuah tanya besar yang menyengat rasa keadilan: Ke mana perginya uang ratusan miliar rupiah yang dijanjikan untuk rakyat?
Berbulan-bulan berlalu sejak banjir bandang ganda (Maret dan November 2025) menghantam, janji manis yang menggema dari Istana Negara hingga Balai Kota ternyata menguap di udara. Di atas kertas laporan resmi, anggaran disebut telah mengalir deras. Namun di lapangan, realitasnya justru memperlihatkan pemandangan yang memilukan.
Janji Langit dari Puncak Kekuasaan
Banjir bandang 2025 bukanlah musibah biasa. Hantaman air yang membawa gelondongan kayu dan batu meratakan ratusan rumah, memutus urat nadi infrastruktur, dan menenggelamkan puluhan ruang kelas. Merespons skala kehancuran ini, gerak cepat sempat diperlihatkan oleh petinggi negeri:
Baca Juga: Panggung Merah Putih Di Bumi Ruwa Jurai: BRN Satukan Kekuatan Sambut Kedatangan Presiden RI ke-7!
-
Instruksi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto: Menetapkan Padangsidimpuan sebagai prioritas nasional. Menjanjikan paket stimulus tunai minimal Rp8 juta per keluarga korban (Rp3 juta untuk perbaikan rumah, Rp5 juta untuk pemulihan ekonomi), di luar logistik beras Bulog dan biaya sewa hunian sementara.
-
Logistik Fantastis Kemensos RI: Menggelontorkan bantuan senilai Rp9,6 miliar untuk wilayah Sumatra bagian utara, lengkap dengan pengerahan ribuan personel Tagana dan jaminan medis gratis.
-
Komitmen Bobby Nasution Gubernur Sumatera Utara: Turun langsung ke Kelurahan Aek Tapang dan berjanji mengawal perbaikan 674 unit rumah yang rusak, serta mengucurkan dana APBD Provinsi untuk pemulihan infrastruktur.
Secara kalkulasi kasar dari seluruh lini anggaran—pusat, provinsi, hingga daerah—dana yang berputar untuk memulihkan kota ini diperkirakan menembus angka fantastis: Rp170 miliar.
Baca Juga: Menyengat 'Parfum' Racun Pasar Kedondong, Kadis Bungkam, ke Siapa Rakyat Mengadu?
Ironi di Gerbang Sekolah dan Rumah Warga
"Laporan bilang dana sudah cair, tapi kami tidak pernah menerima sepeser pun uang perbaikan," keluh seorang guru yang enggan disebutkan namanya.
Pendidikan yang Terlantar
Administrasi Dinas Pendidikan Kota Padangsidimpuan mengklaim Dana Belanja Tidak Terduga (BTT) telah disiapkan untuk merenovasi sekolah, membeli meja-kursi, hingga membagikan seragam dan alat tulis gratis. Namun hingga pertengahan 2026, realitasnya berbanding terbalik. Anak-anak terpaksa belajar di bawah terik matahari atau menatap langit-langit bocor di dalam kelas dengan dinding yang retak menganga.
Bantuan yang Salah Sasaran
Di sektor pemukiman, kondisinya tidak kalah miris. Rumah warga korban asli masih berdiri miring ditopang seadanya oleh kayu penyangga. Ironisnya, warga yang rumahnya sama sekali tidak tersentuh air justru kedapatan menerima bantuan tunai. Hak para korban diduga telah dirampas oleh ketidakadilan birokrasi.
Empat Dosa Di Balik Layar: Mengapa Dana Bisa "Menguap"?
Kesenjangan yang teramat tajam ini memicu gelombang kemarahan. Elemen masyarakat dan mahasiswa mengendus adanya aroma korupsi dan manipulasi yang terstruktur: