Surabaya NAWACITAPOST - Pandemi Covid-19 tak hanya menyerang fisik, melainkan juga menyerang psikis umat manusia. Begitupun terkait masalah pendidikan formal dan informal di sekolah.
Mulai 28 April lalu kota Surabaya menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB. Dalam hal ini diterapkan pula bekerja di rumah atau belajar di rumah, untuk itu dalam kegiatan pendidikan di sekolah harus difikirkan bagaimana agar siswa tetap dapat belajar baik terkait pelajaran formal maupun informal supaya secara Psikis anak juga terjaga khususnya dalam hal beragama.
PSBB bertepatan pula dengan bulan Romadhon, biasanya siswa-siswi yang beragama muslim mengikuti pondok Romadhon disekolahnya masing-masing. Begitu pula yang setiap tahun terjadi di SD Muhammadiyah 15 Surabaya, tidak terkecuali di Romadhon tahun ini.
" Pondok Romadhon tetap kita adakan, namun tahun ini kita ubah menjadi model daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). esensinya tetap seperti apa yang kita sepakati bersama oleh panitia yaitu adalah daring time, kemudian pembelajaran aplikatif atau pembelajaran yang nyata di rumah," ujar Kepala sekolah SD Muhammadiyah 15 Surabaya, Muhammad Natsir, M.Pd.I saat ditemui media di SD Muhammadiyah 15, Jl. Mastrip Surabaya. Jumat (24/4)
Lebih lanjut, Natsir menyadari Pondok Ramadhan kali ini tidak bisa di laksanakan di sekolah, maka kita sepakat dengan panitia untuk tetap mengadakan tetapi dalam Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) atau distance education, yang otomatis beda dengan real di lapangan.
“Secara strategi ini pertama kali karena online, untuk masalah materi kita juga beda, yaitu penyadaran bagi orang tua akan tugas dan kewajiban sebagai orang tua. Kemudian bagaimana menanamkan anak itu sebuah pembiasaan, yang selama ini mungkin susah untuk dibangun karena kesibukan orang tua. Program dari sekolah seperti ini tapi tidak terlaksana akan terpantau di rumah,” terang Natsir.
Menurut Natsir di bulan Ramadhan saat ini adalah moment yang positif diantara moment yang lain. Kita manfaatkan sebagai pelaksanaan Habit Forming (pembiasaan) bagi anak-anak untuk melaksanakan sesuatu hal yang paling mudah dan paling kecil. Karena disitulah nanti menjadi sebuah pengalaman yang baik bagi hidupnya di kemudian hari.
"Habit Forming (pembiasaan) adalah salah satu model pembelajaran yang paling cocok dalam meningkatkan akidah dan akhlak. Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang tua, dalam hal ini para pendidik agar mereka menyuruh anak-anak mengerjakan shalat, tatkala mereka berumur tujuh tahun," tekannya.
Natsir mengutarakan, pada bulan Ramadhan ini adalah kesempatan untuk anak melakukan Amal jariyah, bukan konsep zakat. Sedekah jariyah yang diniatkan untuk kebaikan. Kesempatan ini untuk bersodakoh sebanyak-banyaknya, kalau zakat sebuah kewajiban, tetapi titik beratnya pada kita adalah bagaimana anak-anak itu berempati, rasa sosialnya semakin tinggi.
“Jadi ini adalah momentum terbaik untuk kita semua agar bisa mensinergikan tiga pilar, yaitu keluarga, sekolah dan anak. Momentum yang baik ini maka kita gunakan sebaik-baiknya untuk bisa melakukan kegiatan yang menjadi program dari pihak sekolah,” ungkapnya.
Natzir Berharap kepada orang tua, Marilah saling sadar kondisi yang ada dan menjadikan moment ini kesempatan yang terbaik untuk menjadi orang tua dari anak-anak yang bisa sharing atas kebutuhan anak dan harapan orang tua,” pungkas Natsir. (BNW)