-
Infrastruktur skala besar & Pariwisata berbasis investasi.
-
Perkebunan monokultur & Pertambangan (minerba maupun ilegal).
-
Industri tambak garam & Proyek geothermal (panas bumi).
Hori menegaskan bahwa penetapan Pulau Flores sebagai "Pulau Panas Bumi" adalah solusi palsu iklim. Bukannya menyelamatkan bumi, proyek ini justru mereduksi ruang hidup menjadi komoditas, memperparah kerusakan ekologis, dan mengusir perempuan dari sumber penghidupannya.
Baca Juga: Paradoks Padangsidimpuan: Senyum WTP di Atas Air Mata dan Dugaan Raibnya Ratusan Miliar Dana Bencana
3. Linda Tagie (Solidaritas Perempuan Flobamoratas): Tubuh Perempuan Sebagai Medan Pertempuran
Dengan narasi yang menggetarkan, Linda Tagie membongkar bagaimana perlawanan perempuan menubuh dalam empat dimensi: Ekspresi, Tubuh, Pikiran, dan Hasil Kerja.
- Ekspresi: Suara penolakan kerap direspons dengan penghinaan, stigmatisasi, bahkan seksualisasi.
- Tubuh: Menjadi medan pertempuran antara resiliensi untuk bertahan hidup dan eksploitasi.
- Pikiran: Pengetahuan perempuan didiskreditkan oleh hegemoni patriarki; dianggap tak layak di ruang keputusan.
- Hasil Kerja: Kerja perawatan (care work) dianggap tidak bernilai secara ekonomi, padahal merupakan fondasi ketahanan komunitas.
Rezim Hukum dan Bayang-Bayang Militerisme
Linda Tagie juga menyoroti instrumen hukum seperti UU Cipta Kerja dan wacana revisi UU TNI yang kian mempersempit ruang demokrasi sipil. Kebijakan yang tidak responsif gender ini dinilai menyuburkan praktik militerisme di tingkat tapak.
Ketika perempuan akar rumput berdiri tegak mempertahankan tanah, air, dan benih mereka, mereka tidak lagi dipandang sebagai warga negara yang sah, melainkan dicap sebagai "ancaman terhadap negara". Intimidasi, kriminalisasi, dan pembungkaman paksa menjadi makanan sehari-hari bagi para perempuan pembela HAM dan lingkungan di NTT.
Pesan Menohok dari NTT untuk Dunia
Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di NTT tidak dirayakan dengan seremoni penanaman pohon yang superfisial. Forum ini mengirimkan pesan politik yang tegas kepada pemerintah dan investor global: Kedaulatan negara tidak boleh dibangun di atas reruntuhan kedaulatan perempuan.
Transisi energi yang adil (just transition) tidak akan pernah terwujud selama suara perempuan dikebiri, dan alam NTT hanya dipandang sebagai mesin pengeruk keuntungan. Perjuangan perempuan di Flores dan seluruh pelosok NTT adalah pengingat bahwa mempertahankan ruang hidup adalah satu-satunya cara untuk merawat kehidupan itu sendiri. Lonceng alarm telah berbunyi, dan NTT memilih untuk melawan!(Sandiang K. Ndapa Namung)