Jakarta, NAWACITApost.com - Sebanyak 12 orang dilaporkan mengalami kondisi hiperventilasi saat maskapai Asiana Airlines melakukan pendaratan di Bandara Internasional Daegu, Korea Selatan, pada Jumat (26/5/2023). Penyebab hiperventilasi yang dialami para penumpang tersebut, karena pintu darurat dibuka seorang penumpang saat pesawat masih berada di ketinggian.
Lalu apa itu Hiperventilasi?
Hiperventilasi adalah kondisi di mana seseorang menghirup dan menghembuskan napas dengan cepat dan dalam, melebihi kebutuhan normal tubuh. Hal ini dapat menyebabkan kadar karbon dioksida (CO2) dalam darah menurun secara signifikan, sementara kadar oksigen tetap tinggi.
Hiperventilasi seringkali terjadi sebagai respons terhadap stres, kecemasan, atau situasi yang membuat ketakutan. Ketika seseorang mengalami hiperventilasi, pola pernapasan mereka menjadi lebih cepat dan lebih dangkal dibandingkan dengan pernapasan normal.
Ini dapat mengakibatkan gejala fisik dan emosional yang tidak menyenangkan, seperti pusing, kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki, keringat dingin, pingsan, detak jantung yang cepat, dan rasa cemas yang intens. Hiperventilasi dapat terjadi pada siapa saja, tetapi lebih sering dialami oleh individu yang memiliki gangguan kecemasan, serangan panik, atau masalah pernapasan lainnya. Selain itu, situasi stres atau trauma emosional juga dapat memicu hiperventilasi.
Meskipun hiperventilasi bisa sangat mengganggu dan menakutkan, kondisi ini umumnya tidak membahayakan jiwa dan gejalanya dapat diatasi dengan baik. Beberapa teknik pernapasan yang dapat membantu mengurangi frekuensi dan keparahan hiperventilasi termasuk menghirup napas perlahan dan dalam melalui hidung, menahan napas sejenak, dan menghembuskan napas secara perlahan melalui mulut.
Namun, apabila tubuh kekurangan karbon dioksida, maka dampaknya pada tubuh dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang memasok darah ke otak. Bahaya hiperventilasi ini bisa menyebabkan suplai darah ke otak berkurang, sehingga dapat menyebabkan gejala seperti pusing dan kesemutan pada jari. Bahkan, efek buruk hiperventilasi yakni dapat menyebabkan hilangnya kesadaran.
Karena itu, penting untuk mencari bantuan medis jika gejala hiperventilasi berlangsung lama atau berulang secara teratur. Dokter dapat membantu mengevaluasi penyebabnya, memberikan saran tentang pengelolaan stres atau kecemasan. Dalam beberapa kasus dokter akan meresepkan obat atau terapi tertentu untuk membantu mengurangi frekuensi dan keparahan hiperventilasi.
Berikut beberapa penyebab hiperventilasi yang perlu diketahui.
- Berdarah atau mengalami pendarahan
- Overdosis obat (overdosis aspirin, misalnya)
- Sakit parah
- Kehamilan
- Infeksi pada paru-paru
- Penggunaan stimulan
- Penyakit paru-paru, seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau asma Serangan jantung
- Ketoasidosis diabetik (komplikasi gula darah tinggi pada penderita diabetes tipe 1) Bepergian ke ketinggian lebih dari 6.000 kaki
- Cedera kepala
- Sindrom hiperventilasi.