Minggu, 21 Juni 2026

Bogor Membara: PWRI "Gedor" Hiswana Migas, Cium Aroma Busuk Permainan Harga LPG!

Photo Author
Tiarsin Nawacita, Nawacita Post
- Rabu, 29 April 2026 | 19:04 WIB
Logo PWRI  (Istimewa)
Logo PWRI (Istimewa)

NAWACITAPOST.COM — Genderang perang terhadap ketidakadilan distribusi energi resmi ditabuh. Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Wartawan Republik Indonesia (DPC PWRI) Bogor Raya secara mengejutkan melayangkan surat audiensi darurat kepada DPC Hiswana Migas Bogor Raya, Senin (27/4/2026).

Langkah ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan sebuah tuntutan atas dugaan skandal ketimpangan harga LPG yang kian mencekik leher rakyat kecil di Bumi Tegar Beriman.

Pilar Keempat Bergerak: "Masyarakat Dirugikan!"

Melalui surat bernomor 019/PWRI/DPC.Bogor Raya/Reg/2026, PWRI berdiri tegak sebagai pilar keempat demokrasi. Ketua DPC PWRI Bogor Raya, Rohmat Selamat SH., M.Kn, menegaskan bahwa pihaknya menemukan fakta lapangan yang menyakitkan: Harga LPG carut-marut dan melenceng jauh dari mandat Kementerian ESDM.

"Ketimpangan harga ini adalah luka bagi masyarakat. Ini pengkhianatan terhadap visi Bogor Gemilang dan Jawa Barat Istimewa!" tegas pernyataan resmi organisasi tersebut.

Baca Juga: Gemuruh Prestasi Di Ufuk 2026: Universitas Warmadewa Menembus Batas Dunia!

Misteri "Kantor Kosong" Hiswana Migas

Namun, drama dimulai saat kurir keadilan tiba di markas Hiswana Migas. Alih-alih disambut dengan keterbukaan, PWRI justru membentur tembok birokrasi yang dingin. Kabar miring berembus bahwa jajaran pengurus organisasi penyalur migas tersebut bak "hantu" yang jarang menampakkan diri di kantor.

“Kalau pengurus migas jarang ke kantor kecuali ada kegiatan, jadi suratnya dititipkan saja,” ungkap sebuah sumber internal yang enggan identitasnya terungkap.

Urgensi Tinggi: Transparansi atau Sembunyi?

Sikap "sulit ditemui" ini memicu tanda tanya besar:

  1. Mengapa komunikasi publik begitu tertutup di tengah krisis harga?
  2. Apakah ada yang disembunyikan di balik distribusi "gas melon" yang carut-marut?

PWRI menuntut audiensi dilakukan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Publik kini menunggu: Apakah Hiswana Migas akan keluar dari "persembunyian" untuk memberi penjelasan, atau justru membiarkan isu permainan harga ini terus menggelinding menjadi bola api yang menghanguskan kepercayaan masyarakat?

Rakyat Bogor butuh jawaban, bukan sekadar janji di atas kertas.(Lesmanan.H)

Editor: Tiarsin Nawacita

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini