nasional

BRI Dukung Ketahanan Pangan Nasional melalui Pembiayaan di Sektor Pertanian  

Kamis, 5 Desember 2024 | 09:58 WIB
BRI dukung ketahanan pangan. (Istimewa)

 

NAWACITAPOST.COM - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Hingga akhir September 2024, BRI berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp199,83 triliun ke sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Langkah ini mencerminkan peran strategis BRI sebagai mitra pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor-sektor prioritas yang mendukung kesejahteraan masyarakat. Direktur Utama BRI, Sunarso, menekankan pentingnya sektor pertanian dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Menurutnya, sektor ini tidak hanya menjadi tulang punggung perekonomian tetapi juga memainkan peranan utama dalam memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat. Dalam pandangannya, perluasan akses pembiayaan untuk para pelaku sektor pertanian, termasuk petani, UMKM, dan pelaku agribisnis, adalah bagian dari upaya BRI untuk mendukung ketahanan pangan.

"Oleh karena itu, kami terus memperluas akses pembiayaan kepada para pelaku di sektor ini, termasuk petani, UMKM, dan pelaku agribisnis lainnya," ujar Sunarso.

Baca Juga: PNM Bantu Masyarakat Probolinggo Atasi Krisis Air Bersih

Kredit yang disalurkan BRI mencakup berbagai subsektor, seperti tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Selain pembiayaan, BRI juga menjalankan program pemberdayaan petani melalui pelatihan, pendampingan, serta digitalisasi sektor pertanian.

Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, sehingga sektor pertanian dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional. Dalam kaitannya dengan upaya keluar dari perangkap pendapatan menengah, Sunarso menekankan pentingnya ketahanan pangan.

Berdasarkan kajian Bappenas, Indonesia diproyeksikan bisa mencapai tingkat pendapatan tinggi pada 2041 dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi minimal 6% per tahun. Untuk mencapainya, ia menyebutkan bahwa investasi pada human capital atau nilai ekonomi dari pengalaman dan keterampilan pekerja menjadi kunci utama.

“Berdasarkan kajian Bappenas, Indonesia diperkirakan akan keluar dari jebakan kelas pendapatan menengah pada tahun 2041 jika asumsi rata-rata pertumbuhan ekonomi minimal 6% terpenuhi,” kata Sunarso.

Baca Juga: Strategi BRI Perkuat Inovasi Hadapi Tranformasi Digital  

Sunarso menjelaskan tiga faktor penting yang perlu diutamakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif. Pertama, kebutuhan nutrisi dan pangan harus dimaksimalkan. Strategi khusus dan visioner diperlukan untuk memastikan bahwa ketahanan pangan dapat mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Maka menjadi penting, kita fokus untuk memiliki strategi yang khusus, spesifik, dan visioner untuk masalah ketahanan pangan,” ujar Sunarso.

Kedua, peningkatan kesejahteraan rakyat melalui penyediaan lapangan kerja. Menurut Sunarso, pemerataan kesempatan kerja adalah langkah penting untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, khususnya usia produktif.

Halaman:

Tags

Terkini