NAWACITAPOST.COM - Tepat pada Senin (7/10/2024), peringatan setahun perang Gaza berlangsung. Pada peringatan ini, militer Israel mempublikasikan laporan lengkap tentang dampak yang dihasilkan selama satu tahun terakhir dari operasi militer mereka di Gaza.
Sejak serangan balasan dilancarkan oleh Israel, lebih dari 40.000 target telah dibom di Gaza. Selain itu, 4.700 terowongan yang diduga digunakan oleh Hamas untuk operasi militer ditemukan dan dihancurkan oleh pasukan Israel.
Sebanyak 1.000 lokasi peluncur roket juga berhasil dihancurkan. Ini merupakan upaya Israel untuk menanggulangi potensi ancaman roket dari wilayah Palestina.
Dalam peringatan tersebut, militer Israel merilis data tentang jumlah korban yang mereka alami. Sejak dimulainya konflik, Israel telah kehilangan 726 tentara. Dari jumlah tersebut, 380 tentara tewas dalam serangan awal Hamas pada 7 Oktober 2023, sementara 346 lainnya gugur dalam operasi militer di Gaza yang dimulai pada 27 Oktober tahun lalu.
Selain korban jiwa, sebanyak 4.576 tentara Israel mengalami luka-luka selama konflik ini. Dalam laporan yang dikutip dari Reuters, militer juga melaporkan bahwa 56 tentara mereka tewas dalam insiden yang tidak terkait langsung dengan pertempuran, namun disebabkan oleh kecelakaan operasional yang tidak dijelaskan lebih lanjut.
Baca Juga: Mahfud MD: Prabowo Subianto Berpotensi Bangun Sistem Baru yang Berpihak kepada Rakyat
Militer Israel juga menyebutkan bahwa lebih dari 300.000 tentara cadangan telah dipanggil sejak awal perang. Para tentara cadangan ini terdiri dari 82 persen pria dan 18 persen wanita, dengan hampir setengah dari mereka berada dalam rentang usia 20 hingga 29 tahun.
Israel selama setahun terakhir menghadapi ribuan roket yang ditembakkan ke wilayahnya. Menurut data militer, 13.200 roket diluncurkan dari Gaza, sementara 12.400 roket lainnya ditembakkan dari Lebanon. Tidak hanya itu, serangan juga datang dari Suriah dengan 60 roket, Yaman dengan 180 roket, dan 400 roket yang diduga berasal dari Iran.
Sebagai bagian dari operasi balasan, Israel melakukan serangan udara yang menyasar lebih dari 4.900 target di Lebanon, menewaskan lebih dari 800 anggota kelompok bersenjata di wilayah tersebut. Serangan darat juga mengincar sekitar 6.000 target di berbagai lokasi, menambah intensitas konflik di perbatasan Lebanon-Israel.
Selain itu, militer Israel juga melancarkan operasi di Tepi Barat dan Lembah Jordan, dengan lebih dari 5.000 tersangka ditangkap dalam setahun terakhir. Penangkapan ini diyakini sebagai bagian dari upaya Israel untuk menekan keberadaan kelompok militan yang dianggap sebagai ancaman keamanan.
Militer Israel mengklaim telah menewaskan sejumlah pimpinan penting Hamas selama operasi militer di Gaza. Delapan komandan brigade, 30 komandan batalion, dan 165 komandan kompi tewas dalam berbagai serangan yang dilancarkan sepanjang konflik. Penargetan komandan ini dianggap sebagai langkah strategis untuk melemahkan struktur kepemimpinan Hamas.
Baca Juga: Survei Charta Politika: Tren Elektabilitas Pram-Doel Terus Menanjak
Sementara itu, dampak konflik terhadap warga sipil Palestina sangat memprihatinkan. Serangan balasan Israel yang terus berlanjut telah menyebabkan hampir 42.000 warga Palestina tewas, sebagian besar adalah warga sipil. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa jumlah korban terus meningkat seiring dengan intensitas serangan udara dan darat yang menghantam berbagai wilayah.
Di tengah peringatan setahun konflik ini, lebih dari 100 orang Israel masih menjadi sandera oleh Hamas. Pada awal serangan tahun lalu, sekitar 250 orang disandera, dan meski sebagian besar telah dibebaskan, masih ada warga yang nasibnya belum diketahui hingga hari ini.