NAWACITAPOST.COM - Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menegaskan pentingnya mengembalikan fungsi trotoar di ibu kota yang saat ini banyak disalahgunakan. Menurut pria yang dikenal dengan sebutan "Bang Doel" itu, banyak trotoar di Jakarta yang kini beralih fungsi menjadi lahan parkir maupun tempat berjualan, sehingga mengabaikan hak pejalan kaki.
"Saya heran melihat banyak trotoar di Jakarta, khususnya di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), yang seharusnya digunakan untuk pejalan kaki, malah dipakai untuk parkir dan berdagang," ungkap Rano, dikutip Jumat (27/9/2024).
Rano menekankan, trotoar harus dikembalikan sesuai fungsi utamanya yaitu sebagai ruang bagi pejalan kaki. Ia menyadari bahwa saat ini banyak trotoar di Jakarta yang tidak lagi nyaman digunakan karena padatnya kendaraan yang parkir di sana dan maraknya pedagang yang memanfaatkan area tersebut.
"Kita ingin mengembalikan trotoar seperti fungsinya semula, biar lebih ramah untuk pejalan kaki," jelas Rano.
Rano menambahkan bahwa ada dua opsi untuk menyelesaikan masalah ini. Opsi pertama adalah melebarkan trotoar, meskipun konsekuensinya jalan raya akan menjadi lebih sempit. Sementara itu, opsi kedua adalah memperlebar jalan, yang akan berdampak pada menyempitnya area trotoar.
Baca Juga: Puan Maharani: Pertemuan Megawati dan Prabowo Segera Terwujud
"Kita akan kaji lebih lanjut pilihan terbaiknya. Apakah trotoarnya diperlebar dan jalannya jadi sempit, atau sebaliknya. Yang jelas, kita akan mencari solusi yang terbaik," ujarnya.
Rano juga menyinggung pentingnya keseimbangan dalam pembangunan infrastruktur. Menurutnya, kota metropolitan seperti Jakarta harus memberikan kenyamanan bagi semua warganya, termasuk pejalan kaki yang sering kali diabaikan dalam perencanaan infrastruktur kota.
"Trotoar itu bukan sekadar fasilitas, tetapi hak pejalan kaki. Kita harus membuatnya layak dan nyaman, agar warga lebih memilih berjalan kaki ketimbang menggunakan kendaraan pribadi untuk jarak dekat," tutupnya.
Rano Karno telah berkomitmen untuk menata ulang pemanfaatan ruang publik, termasuk trotoar, agar Jakarta bisa menjadi kota yang lebih ramah bagi pejalan kaki dan lebih manusiawi secara keseluruhan.