NAWACITAPOST.COM - Massa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) melakukan long march menuju kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk memperingati peristiwa 27 Juli 1996 atau yang dikenal dengan "Kudatuli". Massa mulai bergerak dari kantor DPP PDI-P di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat pada pukul 14.08 WIB.
Mereka mengenakan kaus hitam bertuliskan “Kudatuli #kamitidaklupa”, massa membawa payung hitam dan meneriakkan slogan, “27 Juli, kami tidak lupa!”.
“Tolong pak/bu Komnas HAM, usut tuntas 27 Juli 1996 Kudatuli,” demikian bunyi salah satu spanduk yang mereka bawa.
Sepanjang long march, sejumlah lagu kebangsaan seperti ‘Gebyar-Gebyar’ diputar untuk menambah semangat para peserta. Ketua DPP PDI-P Djarot Saiful Hidayat dan Ribka Tjiptaning turut hadir dalam barisan, menunjukkan solidaritas dan dukungan mereka. Massa juga membawa foto-foto masyarakat yang hilang sejak peristiwa tersebut, seperti Wiji Thukul, Herman Hendrawan, Suyat, dan Petrus Bima Anugrah.
Peristiwa Kudatuli, yang merupakan akronim dari Kerusuhan dua puluh tujuh Juli, terjadi pada 27 Juli 1996. Insiden ini terjadi karena adanya perebutan kantor DPP PDI antara massa dari kubu Megawati Soekarnoputri dan massa dari kubu Soerjadi. Peristiwa ini berujung pada kerusuhan yang menewaskan lima orang, melukai 149 orang, dan menyebabkan 23 orang dinyatakan hilang.
Kerusuhan ini bermula dari dualisme kepemimpinan dalam PDI. Megawati terpilih sebagai ketua umum (ketum) berdasarkan kongres luar biasa (KLB) di Surabaya, sementara Soerjadi mengklaim dirinya sebagai ketum berdasarkan KLB Medan.
Ketegangan meningkat hingga berujung pada bentrokan di kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat. Massa dari kedua kubu terlibat dalam aksi pelemparan dan kekerasan yang berakibat fatal.
Peringatan Kudatuli tahun ini menggarisbawahi pentingnya mengingat dan mengejar keadilan bagi korban. Massa membawa spanduk dan foto korban, menyerukan agar Komnas HAM mengusut tuntas peristiwa tersebut.
“Tidak ada reformasi tanpa Kudatuli,” ujar seorang orator dari atas mobil komando, menekankan betapa pentingnya peristiwa ini dalam sejarah demokrasi Indonesia.