nasional

Mengenal Lebih Dekat Retno Marsudi: Srikandi di Balik Kekuatan Diplomasi Indonesia

Senin, 15 Juli 2024 | 16:00 WIB
Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Lestari Priansari Marsudi. (X)

NAWACITAPOST.COM - Retno Lestari Priansari Marsudi, atau yang akrab disapa Retno Marsudi, adalah sosok yang menorehkan sejarah dengan menjadi Menteri Luar Negeri (Menlu) perempuan pertama di Indonesia. Lahir di Semarang pada 27 November 1962, Retno memulai perjalanan akademiknya di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dengan menekuni bidang Ilmu Hubungan Internasional.

Retno Marsudi adalah sosok yang gigih dalam perjuangannya membela kemerdekaan Palestina. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia terus berkomitmen untuk mengakui Palestina sebagai negara meski menghadapi berbagai tantangan.

Retno secara tegas menyatakan bahwa Indonesia akan terus berjuang di Majelis Umum dan Dewan Keamanan PBB untuk memastikan Palestina mendapatkan pengakuan internasional yang layak. Dengan semangat dan dedikasinya, Retno telah menjadi srikandi di balik kekuatan diplomasi Indonesia, memastikan suara negara Indonesia tetap terdengar dalam upaya global untuk mendukung kemerdekaan Palestina.

Dedikasinya dalam dunia diplomasi sudah terlihat sejak masa kuliahnya. Ia mendapatkan beasiswa dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan langsung direkrut setelah lulus pada tahun 1985. Karier Retno di Kemenlu dimulai dengan penuh tantangan. Pada usia 30 tahun, ia mendapat tugas pertama di Canberra, Australia, saat terjadi krisis diplomatik akibat pembantaian warga Timor Leste di Santa Cruz, Dili.

Baca Juga: Biaya Kuliah Universitas Tarumanagara 2024 untuk Seluruh Program Studi

Kecakapannya dalam diplomasi semakin terlihat ketika ia ditugaskan sebagai sekretaris bidang ekonomi di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Belanda, pada tahun 1997. Setelah itu, berbagai posisi strategis ia emban, seperti Direktur Eropa dan Amerika, Direktur Eropa Barat, hingga akhirnya diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Norwegia dan Islandia pada tahun 2005.

Retno Marsudi menunjukkan kepiawaian dalam menjaga hubungan internasional dan meningkatkan citra Indonesia di kancah global. Keberhasilannya di Norwegia dan Islandia membawanya kembali ke Eropa. Kali ini, ia ditunjuk sebagai Duta Besar Indonesia untuk Belanda pada tahun 2012.

Hanya dua tahun setelahnya, ia kembali ke tanah air atas permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada Oktober 2014. Sebagai Menlu, Retno menghadapi berbagai tantangan diplomatik, dari masalah buruh migran hingga isu-isu hak asasi manusia.

Ia dikenal gigih memperjuangkan kepentingan Indonesia di forum internasional dan menjalin kerjasama strategis dengan berbagai negara. Salah satu pencapaian pentingnya adalah penghargaan “Agen Perubahan” dari PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan pada tahun 2017, yang menegaskan komitmennya terhadap isu-isu gender.

Baca Juga: Jusuf Hamka Siap Bangun Jakarta, Fokus Infrastruktur, Sampah, dan Pelayanan Publik

Selain itu, Retno juga menerima berbagai penghargaan internasional lainnya, seperti The Order of Merit dari Norwegia dan The Ridder Grootkruis di de Orde van Oranje-Nassau dari Belanda. Di dalam negeri, ia dihormati dengan berbagai penghargaan, termasuk dari Serikat Buruh Migran Indonesia dan Elle Style Awards.

Dalam kehidupan pribadi, Retno Marsudi menikah dengan Agus Marsudi, seorang arsitek lulusan Universitas Delft dan Universitas Gadjah Mada. Pasangan ini dikaruniai dua putra, Dyota Marsudi yang merupakan Direktur Eksekutif di sebuah perusahaan modal ventura, dan Bagas Marsudi, seorang dokter.

Komitmen Retno terhadap tugasnya sebagai diplomat dan menteri luar negeri tidak hanya memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak perempuan Indonesia. Keberhasilannya menunjukkan bahwa dengan dedikasi dan kerja keras, tidak ada batasan bagi perempuan untuk mencapai puncak karier di bidang apapun.

Pendidikan

Halaman:

Tags

Terkini