nasional

Profil Buya Syafii Maarif: Sang Pemikir Moderat Islam

Jumat, 5 April 2024 | 11:25 WIB
Buya Syafii Maarif. (X)

Baca Juga: Profil Didiet Maulana: Dari Arsitektur hingga Jadi Maestro Kebaya dan Tenun Ikat Indonesia

“Hari depan Indonesia akan tergantung kepada berhasil atau gagalnya bangsa ini melawan korupsi ini. Jika berhasil, ada harapan bahwa Indonesia masih punya masa depan. Sebaliknya, jika gagal, mungkin masih ada masa depan, tetapi sebuah masa depan yang gelap gulita.”

Buya Syafii Maarif bukan hanya milik Persyarikatan Muhammadiyah, tetapi telah menjadi milik bangsa Indonesia. Ia punya reputasi sebagai guru bangsa. Pemikiran dan pandangan briliannya sering diminta oleh berbagai kalangan, mulai dari presiden, menteri dan pejabat pemerintah lainnya, akademisi, politisi maupun generasi muda harapan bangsa.

Ia adalah pribadi yang egaliter, tampil apa adanya, low profil tanpa pura-pura dan tanpa dibuat-buat. Buya Syafii Maarif tidak ingin diistimewakan. Dalam istilah tasawuf, almarhum orang yang qanaah dan zuhud terhadap kemewahan materi dan kehormatan duniawi.

Sebagai orang yang pernah menjadi pucuk pimpinan Muhammadiyah, ia rela antri menunggu giliran dipanggil sebagai pasien di RS PKU Muhammadiyah, duduk di bangku pasien sama seperti pasien lainnya. Dalam kesehariannya, Buya Syafii Maarif juga terbuka menerima tamu dari berbagai kalangan karena ia tidak punya kepentingan pribadi apapun dan selalu menjaga jarak dengan urusan politik.

Baca Juga: Pengamat Ungkap Profil Ideal Calon Gubernur DKI Jakarta

Buya Syafii Maarif adalah figur intelektual muslim kontemporer yang mampu mempertautkan dunia pemikiran timur dan barat. Sebagai pemikir muslim moderat, ia tidak segan-segan melakukan autokritik secara bertanggungjawab terhadap kelemahan umat Islam dan negara-negara muslim.

Sampai usia lanjut, ia bahkan tidak lelah berpikir, mengemukakan pandangan kritis yang objektif dan mengutarakan kerisauan sembari memberi masukan di media massa. Petuah dan wasiat-wasiat Buya Syafii Maarif tersebar dalam puluhan buku hasil karyanya serta ratusan artikel di Harian Kompas, Republika serta publikasi Muhammadiyah. Karena itu, julukan sebagai guru bangsa dan “suluh bangsa” sangat layak disandangkan kepada Buya.

Halaman:

Tags

Terkini