NAWACITAPOST.COM — Upaya pencarian besar-besaran terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang di perairan Selat Sunda, sekitar Gunung Anak Krakatau, resmi dihentikan oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).
Keputusan penutupan operasi SAR ini disampaikan langsung oleh Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, setelah penyisiran yang memasuki hari ke-10 tidak membuahkan hasil.
Kapal cepat Arupadhatu 1 yang membawa delapan penumpang tersebut diketahui hilang kontak sejak Senin, 7 September 2026.
Meskipun masa pencarian standar Basarnas adalah tujuh hari, tim SAR gabungan dari Basarnas Banten, Lampung, hingga Bengkulu telah memperpanjang penyisiran hingga sepuluh hari tanpa menemukan keberadaan kapal maupun penumpangnya.
"Dari semua yang kita evaluasi, di awal tadi tentang aturan kami di Basarnas ini, operasi SAR tujuh hari, ketujuh juga kita lakukan pencarian tidak ada tanda-tanda, objek juga," ujar Al Amrad dalam keterangan resminya.
"Tadi sudah disampaikan Polair dan TNI AL juga. Kalau mengacu pada peraturan kami tersebut, seharusnya kita sudah closed," lanjutnya.
Uji DNA dan Potensi Pembukaan Operasi SAR
Hingga saat ini, penyebab dan keberadaan Arupadhatu 1 beserta seluruh penumpangnya masih diselimuti misteri. Terkait temuan jenazah di Pulau Enggano, Polda Bengkulu kini tengah melakukan proses identifikasi.
Hasil uji DNA terhadap jasad tersebut masih ditunggu untuk memastikan apakah ada keterkaitan dengan kasus hilangnya kapal tersebut.
"Dari kami sendiri juga Basarnas Banten, kantor SAR Lampung dan kantor SAR Bengkulu (juga terlibat)," terang Al Amrad.
Pihak Basarnas menegaskan bahwa operasi SAR dapat dibuka kembali sewaktu-waktu jika ditemukan indikasi atau material baru terkait kapal dan para penumpang.
Saat ini, skema e-broadcast telah disebarkan ke seluruh kapal yang melintas di Selat Sunda agar segera melaporkan jika menemukan tanda-tanda keberadaan Arupadhatu 1.
"Kami juga sudah menyampaikan e-broadcast, ke seluruh kapal yang melintas di Selat Sunda. Termasuk pencarian ke pulau-pulau tersebut (sekitar Selat Sunda)," beber Al Amrad.
"Kami akan memperkuat lagi dengan e-broadcast, jika ada informasi atau temuan, tentu akan kami tindak lanjuti," tambahnya.
Isak Tangis dan Harapan Masyarakat Carita
Sebelum keputusan penutupan operasi ini diambil, gelombang simpati dan doa terus mengalir dari masyarakat. Ratusan warga dari Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, sempat menggelar doa bersama di posko SAR Basarnas, Pantai Marina Carita.
Suasana haru dan tangis pecah di posko saat keluarga awak kapal dan jurnalis berkumpul menantikan keajaiban.
Ketua RT setempat, Adhari, mengungkapkan bahwa aksi solidaritas tersebut muncul secara spontan dari warga yang berharap seluruh korban dapat ditemukan selamat.
"Tadinya untuk pihak keluarga saja, tetapi ternyata simpatisan masyarakat yang ingin berdoa di sini cukup banyak," kata Adhari.
"Kami sebagai warga, sebagai saudara, sebagai teman, mudah-mudahan keluarga kami yang terkena musibah di Gunung Krakatau kemarin cepat kembali dengan selamat," pungkasnya.