nasional

Update Siswi Karo Dirujuk ke RSCM Diduga Keracunan MBG: Dipastikan Stabil dan Membaik

Kamis, 17 September 2026 | 21:00 WIB
Momen Kepala BGN menjenguk siswa korban keracunan MBG di Berastagi, Karo, Sumatera Utara pada pertengahan Agustus 2026. (Instagram/sudaru_sudaryono - Threads/zumaahmad)

NAWACITAPOST.COM — Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) memberikan penjelasan resmi terkait kondisi terkini dua siswi asal Karo, Sumatera Utara, yang diduga menjadi korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) pada pertengahan Agustus 2026 lalu.
 
Tim medis memastikan kondisi kedua pasien dalam keadaan stabil dan membantah isu adanya gangguan fungsi otak hingga hilang ingatan berat.

Sebelumnya, kedua siswi tersebut dirujuk ke RSCM sejak Sabtu, 12 September 2026, setelah sempat beredar kabar bahwa salah satu siswi mengalami gangguan fungsi otak hingga kehilangan ingatan mencapai 70 persen, sementara siswi lainnya mengalami gangguan ginjal.
 
Baca Juga: Pusat Pusaran Kasus HGB Summarecon Bogor, Mantan Bupati Kebumen Gus Arif Ditangkap KPK
 
Namun, pihak rumah sakit menegaskan bahwa perawatan dilakukan di ruang rawat biasa karena kondisi umum pasien yang cukup baik.

“Jadi, kedua pasien datang ke RSCM tidak dalam kondisi memerlukan perawatan intensif. Pasien dapat berkomunikasi dan berkontak dengan baik,” ujar Direktur Medik dan Keperawatan RSCM Renan Sukmawan dalam konferensi pers di RSCM, Rabu (16/9/2026).

Penjelasan tersebut diperkuat oleh hasil pemeriksaan menyeluruh yang dilakukan oleh tim dokter spesialis.
 
Berdasarkan wawancara, rekam medis sebelumnya, serta pemeriksaan elektroensefalografi (EEG), tim medis menyatakan tidak ditemukan adanya kerusakan pada fungsi saraf maupun otak pasien.
 
Baca Juga: Ketegasan Wali Kota Bekasi: 24 ASN Dipecat dan Puluhan Lainnya Terancam Sanksi Disiplin

“Dari hasil wawancara, pemeriksaan, dan EEG, Insya Allah saya bisa pastikan bahwa tidak ada gangguan fungsi otak pada ananda yang pertama ya (F),” kata Dokter Spesialis Anak dan Konsultan Neurologi Anak, Setyo Handryastuti.

“Jadi, Insya Allah, ke depannya, ananda bisa bersekolah kembali, bisa beraktivitas kembali, bisa ceria kembali. Jadi, saat ini kita fokus untuk tata laksana ananda pertama ini ke depannya,” lanjutnya.

Dokter Handry juga menepis kabar yang menyebutkan pasien mengalami amnesia hingga 70 persen. Ia memastikan ingatan jangka pendek maupun jangka panjang pasien F berada dalam kondisi sangat baik.

“Yang jelas pada saat saya periksa saat ini, ananda (F) ingatannya sangat baik, ya. Memori jangka pendek maupun jangka panjangnya. Dan juga pemeriksaan elektroensefalografi juga tidak menunjukkan gangguan apa pun,” jelasnya.
 
Baca Juga: Sentuhan Nyata Dinsos Kota Bekasi: Ratusan Paket Permakanan Menjangkau Kelompok Rentan

Satu suara dengan tim neurologi, Konsultan Psikiatri Anak dan Remaja RSCM, Tjhin Wiguna, menyebutkan bahwa kognitif dan orientasi pasien tetap berfungsi secara optimal tanpa ada masalah disorientasi.

“Walaupun ada kejadian yang dia lupa, tapi secara keseluruhan bisa menggambarkan apa yang dia rasakan, apa yang terjadi sebenarnya ketika dia merasa tidak nyaman, baik sekarang atau beberapa minggu lalu,” terang Dokter Tjhin Wiguna.

“Dia tahu dia di mana, dia tanggal berapa, hari apa, siapa, dia semuanya tahu. Jadi saya tidak melihat adanya disorientasi atau ada masalah pada memori kerjanya. Secara keseluruhan, masih cukup baik,” paparnya.

Melihat perkembangan kesehatan yang kian positif, pihak RSCM merencanakan untuk memulangkan kedua siswi tersebut pada akhir pekan ini. Proses pemantauan medis nantinya akan terus dilanjutkan melalui koordinasi dengan tim dokter di Sumatera Utara.

Di akhir keterangannya, Renan Sukmawan mengimbau publik dan media untuk memberikan ruang serta privasi bagi kedua remaja tersebut agar proses pemulihan psikologis dan fisik berjalan maksimal.
 
Baca Juga: Gempur Rokok Ilegal dan Narkoba, Menkeu Suahasil Minta Bea Cukai Makin Garang

“Kita mengajak semua pihak ya untuk memberi kesempatan anak-anak, adik-adik kita ini untuk tenang kembali. Tidak diwawancara atau apa di media dan sebagainya sehingga bisa kembali beraktivitas,” ucap Renan.

“Dengan usia remaja seperti ini, menjadi pusat perhatian juga bisa menjadi hal yang tidak nyaman dari segi psikiatris,” tutupnya.

Tags

Terkini