Di titik inilah sosok Kiai Miftach menarik untuk dilihat bukan sekadar sebagai pejabat organisasi.
Ia merupakan representasi dari model kepemimpinan ulama yang tumbuh melalui sanad keilmuan, pesantren dan pengabdian sosial, kemudian masuk ke struktur organisasi secara bertahap.
Dari Rangkah, Surabaya, perjalanan itu membawanya ke Tambakberas, Rejoso, Sidogiri dan Lasem. Dari ruang-ruang pengajian dan pesantren, langkahnya kemudian sampai ke PCNU Surabaya, PWNU Jawa Timur, PBNU, hingga MUI.
Dan kini, untuk masa khidmat 2026-2031, perjalanan itu kembali bermuara pada satu amanah: Rais Aam PBNU.
Bagi NU, pilihan tersebut bukan hanya pergantian nama di pucuk Syuriyah. Ia merupakan penegasan bahwa di tengah perubahan zaman, tradisi keulamaan dan pesantren masih menjadi salah satu sumber utama legitimasi kepemimpinan organisasi.
Tantangan terbesar Kiai Miftach lima tahun ke depan pun bukan sekadar menjaga posisi NU tetap besar, melainkan memastikan organisasi yang memiliki puluhan juta warga itu tetap memiliki akar kuat pada tradisi keilmuan, akhlak, pesantren dan khidmah kepada masyarakat. ***