nasional

OPINI: Pengkhianatan Jokowi pada Ahok dan Megawati

Senin, 11 Maret 2024 | 07:55 WIB
Saiful Huda Ems (Instagram)

Jokowi hanya berhasil menjalankan skenario pertamanya, yakni memenjarakan Ahok, namun gagal di sekenarionya yang berikutnya, yakni ingin menjabat tiga periode dan terakhir ingin memaksakan PDIP untuk mendukung Prabowo-Ganjar sebagai capres-cawapres 2024.

Baca Juga: Serahkan Formulir Pendaftaran, Sangki Wahyudin Pastikan Maju Calon Ketua PWI Banten

Megawati memang bukan politisi kaleng-kaleng, jika mau jujur Megawatilah sesungguhnya pelopor utama gerakan Reformasi '98. Dia satu-satunya ketua umum partai politik yang berani menolak Soeharto untuk dicalonkan kembali sebagai capres di Pemilu 1997.

Megawati pulalah yang paling berani terdepan menghadapi Rezim Orde Baru (Orba) dari unsur partai politik. Ini saya bicara bukan hanya sebagai salah satu saksi melainkan pula sebagai salah satu pelaku Sejarah Reformasi '98.

Sebelum saya maju ke persidangan untuk menjadi saksi yang meringankan bagi tersangka Sri Bintang Pamungkas dalam peristiwa pertemuan di Berlin, Jerman April 1995, di mana saat itu saya sebagai salah satu inisiator pertemuannya.

Baca Juga: Jelang Bulan Suci Ramadhan, Kalapas Kelas IIB Padangsidimpuan Kanwil Kemenkumham Sumut Ajak Pegawai Jalan Santai

Saya sebagai Warga Nahdliyin, alumni Jerman sekaligus alumni Pondok Pesantren Tebuireng, menghadap ke Gus Dur untuk meminta izin beliau mendukung perjuangan Sri Bintang Pamungkas, melalui peran saya sebagai saksi yang meringankannya di PN Jakarta Pusat.

Namun apa yang terjadi? Saya diminta oleh Gus Dur untuk tidak mendukung perjuangan Sri Bintang Pamungkas, sebab Rezim Soeharto masih sangat kuat.

"Untuk apa melawan Pak Harto? Ingat loh di seberang itu sangat kuat". Begitu kata Gus Dur ke saya di akhir tahun 1995 itu di kantor PBNU Jakarta Pusat. Saya pun akhirnya pamit dengan rasa sedih. Lalu, saya segera ke Cibubur untuk menemui Sri Bintang Pamungkas di rumahnya.

Baca Juga: Gandeng PMI Nganjuk, PSHT Cabang Nganjuk Gelar Baksos Donor Darah

Saat tiba dirumahnya, Bintang bertanya ke saya,"Gimana dik, hasil pertemuannya dengan Gus Dur tadi?".

Saya sejenak menghela nafas, awalnya mau saya katakan yang sejujur-jujurnya ucapan Gus Dur, namun di mata saya terbayang jutaan kaum yang tertindas. Saya pun kemudian berkata bohong ke Bintang, "Oh, Gus Dur sangat mendukung sekali perjuangan Mas Bintang, dan saya diizinkan oleh beliau untuk menjadi saksi yang meringankan bagi mas Bintang".

Bintang pun tertawa senang dan merasa didukung, sebelum akhirnya masuk penjara Cipinang hingga tahun 1998.

Baca Juga: Ita Purnamasari Merayakan Ramadan dengan Religi dalam KepadaMu Ya Allah

Apa yang saya kisahkan itu bukan berarti saya ingin mengatakan bahwa Gus Dur bukanlah pahlawan atau tokoh Reformasi '98, bukan itu maksud saya. Gus Dur bagaimanapun tetaplah pahlawan dan tokoh Reformasi '98 dalam perannya yang lain, yakni penguatan civil society dan tokoh pejuang demokrasi yang tak boleh diragukan lagi.

Halaman:

Tags

Terkini