Opini NAWACITAPOST.COM — Ada yang janggal dari sebuah infografis yang belakangan beredar luas di media sosial.
Judulnya provokatif: “Penyebab Desil Tinggi.”
Di bawahnya terpampang 14 kondisi yang disebut berkaitan dengan tingginya desil seseorang. Mulai dari punya kredit, mencicil motor, mempunyai emas di pegadaian, menggunakan paylater, punya tabungan di atas Rp5 juta, memiliki sertifikat tanah, dua sepeda motor, rumah beton berlantai keramik, berpenghasilan di atas UMK, memiliki anggota keluarga ASN/PNS, sampai memiliki BPJS Ketenagakerjaan.
Sekilas terlihat ilmiah.
Masalahnya, cara penyajiannya membuat indikator statistik seolah-olah menjadi vonis kemakmuran.
Dan di situlah persoalannya.
Desil bukan daftar dosa orang miskin
Pemerintah memang menggunakan DTSEN sebagai basis pemutakhiran dan penyasaran berbagai program sosial. BPS menegaskan bahwa desil disusun menggunakan banyak variabel sosial-ekonomi dan metode statistik. Jadi, bukan satu indikator tunggal yang menentukan posisi sebuah keluarga.
Artinya, seseorang tidak otomatis menjadi “kaya” hanya karena mempunyai sepeda motor.
Tidak otomatis kaya karena rumahnya sudah diplester.
Tidak otomatis kaya karena memiliki sertifikat tanah.
Dan tidak otomatis kaya karena suami atau istrinya bekerja sebagai karyawan.
Tetapi flyer tersebut justru menyederhanakannya menjadi daftar “penyebab desil tinggi”.
Ini berbahaya.