nasional

Kiamat Ijazah: Wamenaker Afriansyah Noor Tabuh Genderang Perang Melawan Ketertinggalan Kompetensi!

Kamis, 23 April 2026 | 21:55 WIB

NAWACITAPOST.COM — Di tengah badai disrupsi global yang meluluhlantakkan tatanan ekonomi lama, sebuah peringatan keras bergema dari jantung ibu kota. Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor, mengirimkan pesan provokatif yang mengguncang zona nyaman para pencari kerja: Era kejayaan ijazah telah berakhir.

Dalam sebuah orasi yang penuh penekanan pada Rapat Kerja Nasional Serikat Pekerja Sucofindo, Rabu (22/4/2026), Afriansyah menegaskan bahwa selembar kertas ijazah kini hanyalah artefak masa lalu jika tidak dibarengi dengan ledakan kompetensi yang relevan. Dunia kerja modern tidak lagi memuja gelar, melainkan mendewakan keahlian nyata yang mampu beradaptasi dengan kecepatan cahaya.

Sertifikasi: Garis Demarkasi Antara Bertahan atau Tergilas

"Dunia kerja saat ini tidak hanya melihat ijazah! Itu tidak lagi cukup!" tegas Afriansyah dengan nada yang menggetarkan ruangan. Menurutnya, industri saat ini adalah medan tempur yang ganas di mana sertifikasi profesi menjadi perisai dan pedang utama. Tanpa itu, pekerja akan teralienasi di tanah airnya sendiri.

Baca Juga: Oknum ASN Disnaker Terjaring Penggerebekan di Rumah Kontrakan, Kadisnaker Nganjuk Angkat Bicara!

Untuk menghadapi ancaman tersebut, Wamenaker mendesak penguatan kolaborasi masif dengan raksasa-raksasa pelatihan nasional, di antaranya:

  • Balai Pelatihan Vokasi Kemnaker: Kawah candradimuka keterampilan teknis.
  • Politeknik Ketenagakerjaan: Pusat inkubasi intelektual praktis.
  • BNSP: Penjaga gawang standar kompetensi nasional.

Ini bukan sekadar himbauan, melainkan instruksi untuk melakukan akselerasi besar-besaran melalui pelatihan vokasi dan up-skilling agar tenaga kerja Indonesia tidak menjadi penonton di tengah kemajuan industri yang kian mekanistik dan digital.

Diplomasi di Atas Meja: Musyawarah atau Runtuh?

Namun, Afriansyah mengingatkan bahwa kompetensi teknis akan sia-sia jika fondasi sosial di tempat kerja keropos. Ia menyoroti pentingnya Harmoni Industrial sebagai nyawa dari keberlanjutan sebuah korporasi.

"Jika komunikasi tersumbat dan ego dikedepankan, kehancuran perusahaan hanyalah masalah waktu. Namun, jika musyawarah menjadi panglima, kesejahteraan pekerja akan mengikuti kemajuan perusahaan secara otomatis," tuturnya retoris.

Baca Juga: GEMPAR! Cinta Terlarang Oknum Polisi & ASN Nganjuk Terbongkar: Drama Pengintaian Berujung Amuk Massa

Ia menantang Serikat Pekerja Sucofindo untuk menjadi jembatan, bukan tembok. Sebuah seruan untuk mengakhiri era konfrontasi dan memulai era kolaborasi demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Komitmen Sucofindo: Manusia di Atas Angka

Menanggapi tantangan "berdarah" tersebut, Direktur Utama PT Sucofindo, Sandry Pasambuna, menyambut dengan visi yang tak kalah tajam. Baginya, keberhasilan bisnis yang tercermin dalam angka-angka neraka akuntansi tidak akan berarti apa-apa tanpa kualitas manusia yang mumpuni di belakangnya.

Sandry menegaskan bahwa masa depan Sucofindo dipertaruhkan pada kesejahteraan pegawai dan keluarga mereka.

"Kita berdiri di atas semangat kebersamaan dan rasa saling percaya. Inilah benteng terakhir kita dalam mengawal masa depan perusahaan agar tetap tegak berdiri di tengah gempuran zaman," ujar Sandry penuh optimisme.

Pertemuan ini bukan sekadar rapat kerja biasa; ini adalah proklamasi perubahan. Pesannya jelas: Berubah sekarang dengan kompetensi, atau punah ditelan arus sejarah.

Halaman:

Tags

Terkini