NAWACITAPOST.COM - HWPL, atau Budaya Surgawi, Perdamaian Dunia, Pemulihan Terang, menyelenggarakan kampanye bertema “Masa Depan Perdamaian dan Kemakmuran” di 12 wilayah Korea Selatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari Peringatan Tahunan ke-12 Deklarasi Perdamaian Dunia yang pertama kali diproklamasikan pada 25 Mei 2013 oleh Ketua HWPL, Man Hee Lee, di Gerbang Perdamaian, Taman Olimpiade Seoul.
Deklarasi tersebut menekankan peran setiap individu dari berbagai sektor masyarakat dalam mewujudkan dunia tanpa perang. Pesan ini terus digaungkan hingga kini, seiring dengan meningkatnya harapan publik terhadap penyatuan damai Semenanjung Korea.
Kampanye tahun ini berlangsung secara luring di 86 lokasi dan daring di 8 lokasi. Selain itu, acara ini juga menjangkau kota-kota seperti Seoul, Incheon, Pocheon, Wonju, Daejeon, Daegu, Busan, Jeonju, dan Damyang di Provinsi Jeollanam-do.
Mengusung tema “Masa Depan Perdamaian dan Kemakmuran: Perjalanan Bebas di Semenanjung Korea,” kampanye ini digelar sepanjang bulan Juni dengan dukungan pemerintah daerah serta berbagai organisasi sosial dan kemasyarakatan. Sekitar 13.600 orang dari berbagai latar belakang ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan yang bertujuan untuk memperluas kesadaran publik akan pentingnya unifikasi damai.
Dalam Peringatan Tahunan ke-9 Deklarasi Perdamaian dan Penghentian Perang HWPL yang digelar pada 14 Maret lalu, Man Hee Lee menyampaikan pandangannya secara langsung.
“Jalan tercepat menuju unifikasi terletak pada pelaksanaan pergerakan bebas. Sangat penting bagi kita untuk mengejar penyatuan melalui dialog yang membangun tanpa paksaan. Negara kita harus menjadi bukti nyata dari perdamaian," ujarnya.
Setiap kota yang menjadi lokasi kampanye menyajikan tema lokal yang khas, seperti “Bersama: Menghubungkan Korea,” “Menghubungkan Utara dan Selatan Melalui Hutan,” dan “Gema Bakti dan Perdamaian: Menghubungkan Bangsa.” Rangkaian acara juga bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan dan peringatan 75 tahun Perang Korea, menambah kedalaman konteks terhadap pesan perdamaian yang dibawa.
Peserta diajak terlibat dalam berbagai aktivitas interaktif, di antaranya tantangan “We are one for Korea,” pengalaman simbolik menaiki Kereta Perdamaian dari Stasiun Seoul menuju Stasiun Pyongyang, serta ruang menulis pesan kepada keluarga yang terpisah akibat pembagian Korea. Terdapat pula zona foto bertema perdamaian yang mengundang partisipasi masyarakat untuk mengekspresikan harapan mereka secara visual.
Baca Juga: 100 Hari Pram-Doel, Greenpeace: Janji “Jakarta Menyala” Terancam Padam!
Kegiatan budaya seperti pertunjukan orkestra, paduan suara, musikal, dan konser bincang-bincang dengan warga turut digelar untuk memperkuat ikatan emosional antar peserta. Lomba pameran serta ruang refleksi memperkaya pengalaman kampanye dengan menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan suara dan harapan mereka secara langsung.
Dalam beberapa acara, para peserta menuliskan janji perdamaian atau meninggalkan pesan-pesan untuk mendukung unifikasi. Panitia menyampaikan bahwa para peserta menghadapi realitas perpecahan melalui presentasi dari keluarga-keluarga yang terpisah dan konten perdamaian lintas generasi. Hal itu menghubungkan generasi masa perang dengan generasi muda, yang memperdalam pemahaman mereka tentang pentingnya unifikasi.
Pesan yang ditinggalkan mencerminkan keinginan kuat dari masyarakat untuk melihat perubahan nyata. Salah satu peserta menulis, “Kami ingin perdamaian yang nyata, bukan hanya dalam wacana.”