nasional

Ganggu Investasi, Eddy Soeparno Desak Pemerintah Tindak Tegas Premanisme

Rabu, 30 April 2025 | 09:28 WIB
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno. (X)

NAWACITAPOST.COM - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyerukan penertiban terhadap aksi premanisme yang bersembunyi di balik nama organisasi kemasyarakatan atau ormas. Ia menilai praktik semacam ini semakin sering mengganggu pelaku usaha dan industri di Indonesia.

Hal itu, menurut Eddy, sangat berbahaya karena bisa mengancam iklim investasi dan menggagalkan target pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok sebesar delapan persen. “Dengan kata lain, jika ada pihak-pihak yang mengganggu iklim investasi di Indonesia, itu sama saja dengan mengganggu target pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen,” ujar Eddy dalam keterangan tertulis yang dikutip Selasa, 29 April 2025.

Eddy mendorong pemerintah bersama aparat penegak hukum untuk bersikap tegas demi menciptakan rasa aman bagi para investor. Ia menekankan bahwa keamanan dan kepastian hukum adalah dua faktor utama yang dipertimbangkan investor sebelum menanamkan modal.

Bila aksi-aksi premanisme terus dibiarkan, ia khawatir kepercayaan investor akan menurun dan berdampak langsung terhadap roda perekonomian. Pernyataan tersebut ia sampaikan merespons laporan terkait gangguan dari kelompok ormas terhadap pembangunan pabrik mobil listrik produsen asal Tiongkok, Build Your Dream (BYD), di Subang, Jawa Barat.

Citramaja City, tempat hunian modern yang menawarkan kenyamanan, kemudahan, dan keharmonisan hidup. (Instagram)

Ia menjelaskan bahwa pembangunan pabrik tersebut masih dalam tahap konstruksi, namun sudah muncul gangguan terhadap kendaraan-kendaraan pengangkut material. “Kasus ini (BYD-red) hanyalah salah satu contoh dari banyaknya investasi yang terganggu oleh aksi ormas,” katanya.

Ia menyoroti bahwa di tengah situasi global yang tidak menentu, investasi menjadi salah satu harapan utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Lesunya daya beli masyarakat, tantangan ekspor akibat penurunan harga komoditas, serta hambatan perdagangan seperti tarif impor dari negara lain menjadi tekanan tersendiri bagi ekonomi nasional.

“Di tengah melambatnya daya beli masyarakat dan tantangan yang dihadapi ekspor produk Indonesia akibat melemahnya harga komoditas dan penerapan tarif oleh AS, kinerja ekonomi nasional bisa terdongkrak oleh masuknya investasi,” ucapnya.

Ia mengingatkan bahwa target investasi nasional tahun 2025 mencapai Rp 1.900 triliun, dan untuk mencapainya dibutuhkan stabilitas yang nyata di lapangan. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya penindakan terhadap segala bentuk premanisme yang menyasar dunia usaha.

Baca Juga: Profil Irfan Ardiansyah, Nahkoda Baru Ikatan Notaris Indonesia  

“Syarat utama investor mau menanamkan modalnya adalah keamanan dan kepastian hukum, maka aksi premanisme berkedok ormas yang mengganggu pelaku usaha dan industri perlu ditertibkan segera,” tegas Eddy.

 

Tags

Terkini