Kemensos juga telah memberi bantuan beberapa komputer yang bisa merubah text to voice untuk beberapa lembaga/yayasan yang menangani anak-anak disabilitas netra.
"karena itu saya sekali lagi atas nama pribadi maupun seluruh Kementerian Sosial juga masyarakat yang membutuhkan bantuan terutama untuk penglihatan mata mengucapkan terima kasih sekali, upaya ini mencegah mereka agar tidak disabilitas dan kemudian menjadikan mereka produktif," jelas Mensos.
Mensos juga menambahkan, ternyata penyakit katarak dan penyakit mata tidak hanya dialami oleh orang tua atau lansia. Penyakit ini bisa terjadi pada anak-anak.
Pernyataan ini dibenarkan oleh Ketua Pengurus Pusat Perdami, Budu. Faktor penyebab kebutaan pada anak lebih banyak oleh karena masalah penggunaan kacamata.
"Jadi anak-anak kita itu kan ada yang berkacamata minus tinggi dan lain sebagainya. Sejak lahir ada juga faktor-faktor keturunan atau kebiasaan-kebiasaan yang menjadi penyebab mereka butuh bantuan penglihatan melalui kacamata. Nah kalau kita tidak berikan bantuan seperti itu mereka tidak bisa membaca, tidak bisa bergaul, tidak bisa belajar," ungkap Budu.
Data WHO menyebutkan, 12 orang buta per menit (60 detik) di Dunia. Di Indonesia sekitar 1 orang buta setiap menitnya. Namun begitu, 80% dapat dihindari dengan pencegahan dan pengobatan. Di Sulawesi Selatan, sebanyak 2,6% penduduknya mengalami situasi kebutaan dan gangguan penglihatan.
"Jadi yang 2,6% kebutaan itu terus kita lakukan screening. Kita mencari orang-orang yang disability dengan penglihatan kemudian dilakukan operasi. Maka yang paling penting adalah mencegah mereka agar tidak menjadi buta," kata Budu.
Acara yang diselenggarakan oleh Perdami Cabang Sulawesi Selatan bersama dengan Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ini mengusung tema Sight is Human Rights.