“Kita boleh berbeda partai, berbeda pilihan, tapi tetap cita-cita bangsa ke depan Insyaallah kita tetap mendukung panji-panji Negara Kesatuan Republik Indonesia. Siapa pun pemimpin terpilih, kita berikan dukungan sepenuhnya. Siapa pun yang kalah, terimalah itu menjadi suatu takdir kenyataan. Jika cara berpikir kita seperti itu, Indonesia akan menjadi negara sangat kokoh di masa datang,” kata Nasaruddin.
Pelajaran dari Johannes Leimena dan Buya Syafi’i
Senior Research Fellow dari University of Washington Amerika Serikat, Dr. Chris Seiple, mengatakan Sumpah Pemuda adalah sebuah deklarasi luar biasa yang telah membentuk bangsa Indonesia. Dia merasa sangat beruntung bisa mempelajari Sumpah Pemuda dari program literasi keagamaan lintas budaya. Salah satunya mengenal Sosok Dr. Johannes Leimena yang merupakan tokoh Sumpah Pemuda sebagai perwakilan Jong Ambon dalam Kongres Pemuda tahun 1928.
“Beliau (Johannes Leimena) berusia 23 tahun ketika Sumpah Pemuda. Saya berpikir, apa yang saya pikirkan saat berusia 23 tahun, bagaimana saya bisa belajar berpikir seperti beliau untuk saling menghormati dan bekerja sama supaya ada satu nusa, satu bangsa, dan satu masyarakat,” kata Chris.
Chris menambahkan tokoh Indonesia yang juga menginspirasinya dan dianggapnya sebagai “guru” adalah Ahmad Syafi’i Maarif atau Buya Syafi’i. Chris menyebut, Buya, yang lahir 7 tahun setelah Sumpah Pemuda, mengatakan lewat bukunya bahwa pluralisme tepat dilakukan dan bermanfaat bagi semua orang. Sumpah Pemuda benar-benar menggambarkan dan mengejawantahkan nilai pluralisme bahwa kita harus mempunyai kapasitas untuk menghormati satu sama lain sebagai satu bangsa.
Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Ponpes As’adiyah, Dr. Tarmizi Tahir, mengatakan para santri di pesantren memiliki “ikrar santri” sebagai implementasi dari nasionalisme santri. Salah satu isi dari ikrar tersebut adalah santri di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berideologi Pancasila dan berkonstitusi UUD 1945, serta berkebudayaan Bhinneka Tunggal Ika.
Guru Sekolah Kristen Tritunggal, Danny Prasetyo, mengatakan Sumpah Pemuda 1928 menjadi bukti bahwa semangat persatuan dan rasa bangga atas tumpah darah Indonesia sudah tumbuh jauh sebelum kemerdekaan. Penekanan dalam Sumpah Pemuda adalah kata “kami”, bukan “aku”, artinya generasi muda saat ini harus mampu mengendalikan ego dan kepentingan pribadi, sebaliknya mengutamakan kepentingan umum, bangsa, dan negara.
Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho mengatakan program literasi keagamaan lintas budaya, atau LKLB, merupakan upaya bersama Institut Leimena dan berbagai mitra untuk meneruskan semangat dan cita-cita Sumpah Pemuda. Program itu difokuskan kepada guru dan pendidik agama karena pentingnya peran pendidikan dalam membangun sikap saling menghargai sesama manusia terlepas dari berbagai perbedaan. Program LKLB telah diikuti sedikitnya 5.700 guru lintas agama dan penyuluh agama dari 34 provinsi sejak diadakan tahun 2021.