NAMACITApost.com - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, masalah di Papua tidak bisa diselesaikan hanya dengan bunyi-bunyian atau tembak-tembakan. Namun, menurutnya, penyelesaian masalah di Papua bisa melalui pendekatan budaya, kesadaran, dan sosial.
"Bunyi-bunyian itu istilah khas di Papua, itu suara bedil atau tembakan. Jadi pendekatan bunyi-bunyian itu tidak akan selesaikan masalah di Papua," kata Muhadjir dalam seminar 'Menuju Papua Maju', di Kantor Kemenko PMK, Jakarta Pusat, Rabu (18/10/2023).
Selain itu, lanjut Muhadjir, penyelesaian di papua juga harus diselesaikan dari hati dan tidak bisa dengan pikiran-pikiran politik. Selama masih ada pikiran politik dan hitung-hitungan maka tidak akan selesai.
Masyarakat di Papua, lanjut Muhadjir, memiliki budaya, keagungan budi, dan hati yang sangat tajam. Sehingga, pendekatan yang dilakukan harus dengan hati. "Jika hati dengan hati bisa nyambung," kata dia.
Di kesempatan yang sama, PJ Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo bicara tentang banyak faktor yang mempengaruhi roda perekonomian. Kata dia, ada tiga titik pembangunan Papua ke depan yang perlu diperhatikan semua pihak.
Pertama titik produksi, kedua distribusi, dan ketiga pasar. Pada titik produksi misalnya dalam sektor pertanian perlu lahan, bibit, pupuk, alat-alat teknologi pertanian, SDM yang terlatih untuk meningkatkan produksi.
Kemudian, di sektor distribusi, diperlukan alat transportasi dan konektivitas antarmoda. Di sisi lain, masyarakat Papua juga butuh tersedianya pasar untuk memasarkan hasil produksi mereka.
"Kalau produksinya tinggi tapi distribusinya tidak ada maka pasar akan mati. Kalau pasar mati, maka produksinya juga akan mati, kata dia.
Demikian juga sebaliknya, pasar dan konektivitas antarmoda sudah ada. Tetapi, kalau produksinya tidak ada, maka akan mati juga, sehingga semua saling berkaitan. "Oleh karena itu, apa yang dilakukan Kemenko PMK ini sangat sesuai dengan apa yang kita harapkan," pungkasnya