Kamis, 4 Juni 2026

Swedia Kembali ke Buku Teks: Mengapa Pendidikan Digital Kurang Efektif?  

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Jumat, 31 Januari 2025 | 15:44 WIB
Swedia mengambil langkah mengejutkan dengan kembali menggunakan buku teks cetak di sekolah.  (x)
Swedia mengambil langkah mengejutkan dengan kembali menggunakan buku teks cetak di sekolah. (x)

Menurutnya, buku cetak lebih cocok untuk pendidikan dasar karena memberikan manfaat baik dari sisi kesehatan maupun psikologis. Senada dengan itu, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menekankan pentingnya interaksi langsung dengan buku fisik.

Baca Juga: Profil Said Didu: Birokrat yang Berani Mengungkap Kebenaran demi Rakyat  

Ia berpendapat bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memanfaatkan platform digital untuk pendidikan secara optimal. Banyak siswa lebih sering menggunakan perangkat digital untuk bermain dibandingkan untuk belajar, yang berkontribusi pada lemahnya pendalaman materi pelajaran.

Selain itu, Indonesia masih memiliki tantangan besar dalam literasi. UNESCO menempatkan Indonesia di peringkat kedua terbawah dalam tingkat literasi dunia, dengan hanya satu dari 1.000 orang yang memiliki kebiasaan membaca.

Salah satu penyebabnya adalah akses terhadap buku yang masih terbatas, terutama di daerah pedesaan. Ubaid menyoroti bahwa perpustakaan sekolah seringkali tidak memadai dan buku masih dianggap sebagai barang mewah yang sulit dijangkau oleh sebagian besar siswa di Indonesia.

Untuk meningkatkan budaya membaca, Ubaid menekankan perlunya komitmen politik dari pemerintah serta alokasi anggaran yang memadai. Ia mengusulkan agar dana desa digunakan untuk membangun perpustakaan dan memperluas akses terhadap buku di seluruh wilayah Indonesia. Langkah ini dianggap penting untuk memperbaiki kondisi literasi nasional sebelum beralih sepenuhnya ke pendidikan berbasis digital.

Baca Juga: Kasus Judi Online, Adi Kurniawan Minta Budi Arie Mundur dari Jabatan Menteri Koperasi  

Keputusan Swedia untuk kembali ke buku teks cetak menjadi contoh bagaimana negara dapat mengevaluasi kebijakan pendidikan berdasarkan bukti ilmiah dan kebutuhan siswa. Di Indonesia, langkah serupa mungkin perlu dipertimbangkan, mengingat tantangan yang dihadapi dalam literasi dan ketergantungan terhadap teknologi dalam pembelajaran.

 

 

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini