NAWACITApost.com - Sebanyak 125 warga di Padukuhan Jati, Kalurahan Candirejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah menjalani pemeriksaan menyeluruh setelah mengonsumsi daging sapi yang terjangkit penyakit antraks.
Hasil pemeriksaan menyebutkan bahwa dari 125 warga yang diperiksa, sebanyak 85 di antaranya positif terjangkit antraks. Hal ini menimbulkan keprihatinan mendalam bagi seluruh masyarakat setempat.
Dalam menangani wabah antraks yang melanda Padukuhan Jati, Pemerintah Daerah Gunungkidul melalui Kepala Dinas Gunungkidul, Dewi Irawaty, telah mengambil langkah tindaklanjut yang cepat dan tanggap.
Apa Itu Antraks?
Antraks merupakan penyakit menular akut yang disebabkan oleh bakteri bacillus anthraxis. Bakteri ini memiliki kemampuan membentuk spora yang tahan terhadap perubahan cuaca dan mampu bertahan di tanah selama bertahan-tahun sehingga sulit untuk dieliminasi.
Proses penularan bakteri dari hewan ke manusia tidak mesti secara langsung. Tanah bekas hewan mati akibat antraks pun menjadi berbahya. Bakteri mudah masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka atau kulit yang mengelupas walaupun kecil.
Kasus antraks banyak terjadi di daerah pertanian dan perindustrian yang memproduksi produk dari kulit. Bakteri ini dapat menyerang hewan pemakan rumput, seperti sapi, kambing, domba, dan kuda. Antraks terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Antraks kulit
Antraks kulit adalah suatu kondisi penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri antraks (Bacillus anthracis) pada kulit manusia. Penyakit ini dapat menular pada orang yang memiliki luka terbuka di kulit. Penularan terjadi ketika seseorang menyentuh kulit, bulu, tulang, atau daging hewan yang terinfeksi. Selain itu, terdapat kemungkinan bahwa seseorang dapat terinfeksi antraks kulit melalui kontak dengan luka pada kulit penderita antraks.
2. Antraks Pencernaan
Jenis berikutnya ini terjadi ketika seseorang memakan daging hewan yang sudah terinfeksi atau mati akibat antraks, terutama yang dimasak kurang matang. Gejala anthrax pencernaan umumnya muncul 1–7 hari setelah paparan bakteri.
3. Antraks Pernapasan
Jenis ini yang paling berbahaya. Seseorang dapat terinfeksi antraks pernapasan jika menghirup serbuk (spora) dari bakteri antraks, misalnya ketika memproses bulu atau kulit dari hewan ternak. Infeksi akibat anthrax pernapasan biasanya baru berkembang setelah 7 hari hingga 2 bulan sesudah paparan terhadap spora.
Gejala Antraks
Antraks adalah penyakit yang gejalanya dapat bervariasi tergantung pada cara penularan bakteri ke dalam tubuh manusia. Berikut adalah beberapa gejala antraks berdasarkan cara penularannya:
1. Antraks Kulit
Antraks kulit merupakan salah satu jenis antraks yang ditandai dengan munculnya benjolan pada permukaan kulit, yang sering disertai dengan rasa gatal. Benjolan-benjolan ini paling sering terlihat pada area leher, lengan, dan wajah. Selanjutnya, benjolan tersebut dapat berubah menjadi borok dengan warna kehitaman, namun tidak disertai rasa nyeri.
2. Antraks Pencernaan
Antraks gastrointestinal adalah bentuk antraks yang menyerang saluran pencernaan. Gejala yang muncul pada antraks gastrointestinal meliputi: mual dan ingin muntah, sulit menelan, tenggorokan terasa sakit, penurunan nafsu makan, sakit perut, demam, sakit kepala, dan adanya benjolan pada bagian leher. Saat kondisi memburuk, pengidap bisa mengalami diare bahkan buang air besar berdarah.
3. Antraks Pernapasan
Antraks pernapasan adalah bentuk antraks yang menyerang saluran pernapasan manusia. Tanda dan gejala awal yang muncul pada antraks pernapasan mirip dengan penyakit flu biasa, antara lain: tubuh demam, nyeri saat menelan, nyeri pada otot, dan tubuh mudah mengalami kelelahan. Beberapa gejala lanjutannya yaitu sesak napas hingga mengalami syok. Antraks pernapasan juga bisa mengakibatkan peradangan pada selaput otak dan bagian saraf tulang belakang atau meningitis.
Cara Pencegahanya
Antraks adalah penyakit yang dapat dicegah dengan mudah dengan menghindari faktor-faktor risiko atau penyebab yang berpotensi menyebabkan infeksi. Berikut adalah langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan:
- Memastikan daging yang hendak dikonsumsi sudah dibersihkan dan dimasak hingga matang sepenuhnya.
- Melakukan vaksin antraks, terlebih jika berada di kawasan risiko penularan masalah kesehatan ini.
- Menghindari kontak langsung dengan hewan ternak yang terinfeksi penyakit antraks.