Rabu, 3 Juni 2026

Dari Kebun Sagu ke Barak Militer, Saksikan Kisah Haru dan Inspiratif dalam "Janji Senja"  

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Rabu, 8 Januari 2025 | 09:06 WIB
Poster film layar lebar "Janji Senja".  (Istimewa)
Poster film layar lebar "Janji Senja". (Istimewa)

 

NAWACITAPOST.COM - Film layar lebar "Janji Senja" menghadirkan sebuah kisah yang penuh perjuangan, doa, dan air mata. Berangkat dari latar belakang seorang gadis Maluku bernama Maria, cerita ini diangkat dari kisah nyata yang sarat dengan nilai-nilai inspiratif dan moral.

Maria adalah anak seorang petani sagu sederhana yang bertekad mewujudkan cita-cita almarhum ayahnya agar ia menjadi seorang anggota TNI tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun. Diperankan oleh para artis berbakat seperti Yatti Surachman sebagai Mami Bita dan Abio Abi sebagai Bapak Arman, film ini turut melibatkan sejumlah artis pemula dari Maluku dan Maluku Utara.

Kehadiran mereka memberikan nuansa lokal yang kental, menggambarkan kehidupan pedesaan dengan cara yang autentik. Realisme dalam penggambaran ini memperkuat daya tarik emosional dari film, membuat penonton merasa seolah-olah sedang menyaksikan kehidupan nyata yang penuh tantangan dan harapan.

Cerita "Janji Senja" dimulai dari Maria, seorang remaja tangguh yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika ayahnya meninggal akibat sakit yang dideritanya. Sebelum wafat, sang ayah berpesan agar Maria bisa menjadi seorang tentara, sebuah cita-cita yang tidak pernah ia capai. Tekad Maria untuk memenuhi pesan terakhir tersebut menjadi inti dari perjuangannya.

Baca Juga: Mengenal 5 Bandara Terkecil di Dunia

Maria memutuskan merantau ke kota demi mencari pekerjaan dan kesempatan untuk mendaftar sebagai anggota TNI. Keberangkatannya meninggalkan sang ibu dan kedua adiknya di kampung halaman, memaksa keluarga yang ditinggalkan untuk bertahan dengan kondisi serba kekurangan. Namun, semangat dan doa dari sang ibu menjadi kekuatan Maria dalam menghadapi berbagai rintangan.

Menariknya, proses produksi "Janji Senja" juga melibatkan berbagai pihak, termasuk Korem 151/Binaiya. Danrem 151/Binaiya, Brigjen TNI Antoninho Rangel Da Silva, turut memberikan dukungan untuk memastikan film ini bisa selesai tepat waktu.

Dalam keterangannya, Danrem menyebutkan bahwa film ini merupakan bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam membangun pariwisata dan budaya. Selain itu, film ini sebagai bagian dari operasi militer selain perang, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang TNI Nomor 34 Tahun 2004.

"Akhirnya film tersebut dapat diselesaikan sesuai target waktu yang diberikan dan saat ini dalam proses editing," papar Danrem 151/Binaiya dalam keterangannya, Rabu (08/01/2025).

Baca Juga: Awal Ramadan dan Syawal 1446 H

Film ini tidak hanya menampilkan kisah perjuangan Maria tetapi juga menambahkan elemen dramatis seperti flashback yang memperkuat pesan emosionalnya. Setiap adegan dirancang untuk menggugah rasa dan memberikan motivasi, terutama bagi generasi muda Indonesia. Pesan moral yang disampaikan menekankan pentingnya kerja keras, pengorbanan, dan nilai-nilai luhur Pancasila dalam menggapai cita-cita.

Dalam prosesnya menjadi seorang tentara, Maria mengalami berbagai cobaan. Ia harus berhadapan dengan kerasnya kehidupan kota, ketatnya seleksi TNI, dan rasa rindu terhadap keluarga. Setelah dua tahun berjuang, Maria berhasil menjadi seorang prajurit TNI.

Namun, kabar bahwa ibunya sakit memaksanya pulang ke kampung halaman dengan izin dari komandannya. Momen pertemuan Maria dengan keluarga diwarnai haru dan kebahagiaan, tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Sang ibu mengembuskan napas terakhir setelah sempat bertemu Maria, meninggalkan pesan kepada anak-anaknya untuk terus bersatu dan menjaga satu sama lain.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini