Jakarta, NAWACITAPOST- Sidang Komisi pada Muktakar Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Tarbiyah-Perti) bersama organisasi serumpun masih terus berlanjut hingga Senin (24/10) malam. Para peserta yang berasal dari seluruh delegasi se-Indonesia dalam perencanaannya akan menyelesaikan keseluruhan agenda persidangan pada Selasa (25/10) sebelum jam 12.00 WIB.
Steerring Committee acara Muktamar, Drs. H. Syahfrizal, M.Si dalam sambutannya menyampaikan bahwa sangat berbahagia dengan lancarnya proses berjalannya Muktamar ini yang sudah berlangsung sejak hari Minggu (23/10). Beliau juga menyampaikan terimakasih banyak kepada lebih kurang 800 orang peserta dari seluruh perwakilan, baik itu di tingkat PERTI, Pemuda, Wanita, maupun Mahasiswa.
Acara yang diselenggarakan di Hotel Mercure Kawasan Ancol, Jakarta ini berhasil menghasilkan keputusan besar, salah satu diantaranya adalah pengembalian nama organisasi dari Tarbiyah-Perti menjadi Persatuan Tarbiyah Islamiyah, atau yang disingkat dengan PERTI. Pengembalian nama ini menjadi program besar setelah lama menggunakan singkatan Tarbiyah-Perti akibat perbedaan pandangan dari kedua belah pihak.
Perpecahan Tarbiyah dengan Perti yang sudah terjadi sejak tahun 1970 sudah dilakukan penyelesaian melalui islah pada tahun 2016. Namun, keputusan islah pada tahun 2016 mengakomodir kepentingan dari setiap pihak, sehingga namanya tetap menggunakan singkatan dari kedua belah pihak, yaitu Tarbiyah-Perti. Maka dari itu, pada sidang komisi Muktamar Tarbiyah-Perti ditetapkan namanya menjadi Persatuan Tarbiyah Islamiyah, disingkat PERTI.
Pada muktamar ini, keputusan perubahan nama tersebut disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari para peserta muktamar. Salah satu peserta menjelaskan bahwa, perubahan singkatan nama ini sudah menjadi kepentingan bersama dan berdasarkan proses pemikiran yang sangat mendalam. "Sudah saatnya kita memulai persatuan dimulai dari internal organisasi."
Selain perubahan nama organisasi, juga ada beberapa perubahan yang berkaitan dengan azas, tujuan, dan sifat dari organisasi. "Nanti kita akan rilis perubahannya pasca muktamar ini diselenggarakan," sampai Presidium Sidang. Beliau juga menambahkan, segala penamaan Tarbiyah-Perti dalam aturan organisasi ini pada waktu sebelumnya sudah secara otomatis berganti menjadi PERTI.
Muktamar ini dalam perencanaannya akan berakhir pada hari Selasa, 25 Oktober 2022. Oleh karena itu, segala bentuk agenda nasional dari Tarbiyah-Perti beserta organisasi serumpun kemungkinan akan diselesaikan pada hari ini, ungkap panitia pelaksana muktamar.
Muktamar Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Tarbiyah-Perti) yang berlangsung sejak tanggal 23 Oktober 2022 sampai 25 Oktober 2022. Forum yang dihadiri oleh seluruh perwakilan Perti se-Indonesia menetapkan Syarfi Hutauruk dan Zulhendri Chaniago masing-masing sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal masa bhakti 2022-2027.
Drs. Syarfi Hutauruk yang terpilih menjadi Ketua Umum, pada pidatonya menjelaskan bahwa dakwah dan sosial harus menjadi program penting untuk kepengurusan kedepan. "Tarbiyah akan berjalan di tempat apabila tidak mau bergerak untuk menginfaqkan waktu dan mengorbankan perjuangan demi kemajuan umat islam dan bangsa Indonesia," sampai beliau.
Dalam waktu dekat, Syarfi menambahkan bahwa kepengurusan Tarbiyah dan organisasi serumpun harus punya tekad bersama untuk memperjuangkan dalam kurun waktu satu tahun kedepan agar Syekh Sulaiman Ar-Rasuli bisa disahkan oleh Presiden Republik Indonesia menjadi Pahlawan Nasional. Ini merupakan cita-cita besar yang mesti diupayakan dan dijadikan target jangka pendek yang harus diupayakan.