“BNPB dan PVMBG Badan Geologi akan membawa ahli memetakan bagaimana kondisi gunung sekarang ini. Kemudian memasang early warning system sebagaimana yang kita lakukan di Gunung Marapi Sumatra Barat dan Gunung Ibu Halmahera Barat. Paling tidak dengan adanya alat yang lebih canggih peringatan kepada masyarakat lebih baik,” lanjutnya.
Meskipun nantinya dipasangkan alat peringatan dini, Suharyanto berpesan bahwa sehebat apapun alatnya, belum ada yang bisa memprediksi secara tepat kapan letusan akan terjadi.
“Yang harus dijadikan catatan, manusia tetap berusaha tapi terkait saat tepat sebuah gunung bisa meletus tidak bisa diprediksi,” pungkasnya.
Kegiatan yang dilakukan di Posko Pemantauan antara lain melihat kondisi seismograf aktivitas Gunung Lewetobi Laki-Laki dn melihat secara langsung kondisi puncak gunung dari Pos Pemantauan.
Kunjungi Korban Rawat Inap
Setelah mengunjungi Pos Pemantuan, Kepala BNPB meneruskan kegiatannya dengan melihat korban erupsi Gunung Lewetobi Laki-Laki yang masih di rawat di RSUD. Henrikus Fernandez Larantuka.
Para korban yang masih dirawat berjumlah lima orang dengan kondisi yang bervariasi, luka berat 1 orang dan 4 orang lainnya luka sedang.
“Meninjau pasien yang masih dirawat, per hari ini ada 5 orang. Rata-rata kondisinya sudah baik sadar semua, kecuali ada 1 yang luka berat harus diamputasi. Khusus yg kakinya diamputasi, BNPB akan memberikan kaki palsu, dan membantu obat-obatan,” jelas Suharyanto.
“Dari BNPB menambah dan memastikan penanganan kesehatan korban bencana betul-betul dapat terlaksana dengan baik,” tutup Suharyanto.
Artikel Terkait
BNPB Tambah Anggaran Rp5 Miliar Atasi Karhutla di OKI
Gubernur Dan Forkompimda Riau Sambut Kepala BNPB Melihat Langsung Bencana Banjir Yang Masih Melanda
Kepala BNPB Tinjau Lokasi Bencana Sumbar Ditaksir Kerugian 200M
BNPB dan Basarnas Lakukan Pencarian Korban Hilang di Sumbar
Kepala BNPB Tiba di Kota Ternate Pascabanjir Bandang