Kamis, 4 Juni 2026

Alasan Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 6 Persen  

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Rabu, 16 Oktober 2024 | 22:10 WIB
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (Nawi)
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (Nawi)

 

NAWACITAPOST.COM - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-day Repo Rate di level 6,00 persen dalam Rapat Dewan Gubernur yang berlangsung pada 15-16 Oktober 2024. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa keputusan ini didasarkan pada pertimbangan terhadap kondisi nilai tukar rupiah yang cenderung melemah akibat ketidakpastian pasar keuangan global.

Selain itu, tingkat suku bunga deposit facility dan lending facility juga dipertahankan masing-masing di angka 5,25 persen dan 6,75 persen. "Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 15 dan 16 Oktober 2024 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 6 persen," ungkap Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (16/10/2024).

Menurut Perry, keputusan ini konsisten dengan arah kebijakan moneter BI dalam menghadapi tekanan eksternal yang memengaruhi pasar keuangan Indonesia. Salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan BI adalah meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Hal ini terlihat dari ekspektasi penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) yang lebih rendah dari perkiraan semula. Perry menjelaskan, data ekonomi positif dari Amerika Serikat membuat The Fed tidak terburu-buru memangkas suku bunga acuannya, yang pada gilirannya memicu kenaikan yield obligasi AS atau US Treasury.

Baca Juga: Ekonom: Penambahan Kementerian di Kabinet Prabowo Bisa Kuras APBN

"Hal tersebut menyebabkan kenaikan yield US Treasury tenor 2 dan 10 tahun, serta penguatan indeks dolar AS (DXY) terhadap berbagai mata uang dunia," jelas Perry.

Akibatnya, rupiah mengalami depresiasi signifikan terhadap dolar AS. BI mencatat, pada 15 Oktober 2024, nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 2,82 persen secara point to point (ptp). Sementara itu, jika dilihat dari awal tahun (year to date/ytd), depresiasi rupiah mencapai 1,17 persen.

Selain pengaruh dari kebijakan moneter AS, Perry juga menyoroti eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang turut meningkatkan ketidakpastian pasar global. Gejolak ini, menurutnya, menjadi salah satu faktor yang memperburuk posisi nilai tukar rupiah. Meski demikian, Perry menegaskan bahwa depresiasi rupiah masih lebih baik dibandingkan beberapa mata uang regional lainnya, seperti peso Filipina (-4,25 persen), dolar Taiwan (-4,58 persen), dan won Korea Selatan (-5,62 persen).

Meskipun rupiah melemah, Perry tetap optimistis bahwa inflasi akan tetap terkendali dan berada dalam kisaran target BI, yakni antara 1,5 hingga 3,5 persen secara tahunan. Ia menyebutkan bahwa inflasi tahunan terus melandai dan mencapai level 1,84 persen pada September 2024, yang menunjukkan stabilitas harga di dalam negeri.

Baca Juga: Mulai 1 Desember, Transaksi QRIS Usaha Mikro Bebas Biaya

"Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi indeks harga konsumen akan terkendali dalam sasarannya," ujar Perry.

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini