Selasa, 2 Juni 2026

Megawati Raih Profesor Kehormatan Ketiga, PDIP Surabaya: Jalan Kebudayaan untuk Perdamaian Dunia

Photo Author
Nawi., Nawacita Post
- Minggu, 22 September 2024 | 22:01 WIB

NAWACITAPOST.COMMegawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia, kembali mendapat pengakuan internasional atas kontribusinya bagi Indonesia dan dunia. Pada Sabtu (21/9/2024), Megawati dianugerahi gelar Profesor Kehormatan di Universitas Silk Road Internasional, Samarkand, Uzbekistan, dalam bidang Pariwisata Budaya Berkelanjutan.

Penganugerahan gelar ini diberikan langsung oleh Rektor Universitas Silk Road Internasional yang juga menjabat sebagai Menteri Pariwisata dan Warisan Budaya Uzbekistan, Aziz Abduhakimov. Pada kesempatan tersebut, Megawati juga menyampaikan pidato ilmiah bertajuk "Jalan Kebudayaan dan Titik Temu Peradaban" di hadapan sivitas akademika.

Ini merupakan kali ketiga Megawati menerima gelar profesor kehormatan, setelah sebelumnya menerima penghargaan serupa dari Seoul Institute of The Arts (SIA) di Korea Selatan pada 2022 dan Universitas Pertahanan (Unhan) pada 2021.

Baca Juga: Bupati Rini Optimis Blitar Jadi Sentra Peternakan Kambing dan Domba Nasional

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Adi Sutarwijono, menyatakan rasa bangga dan kebanggaan partainya atas pencapaian Megawati. "Selamat kepada Ibu Megawati atas gelar profesor kehormatan yang diraihnya. Kami sangat bangga dan terinspirasi oleh dedikasi beliau yang terus memberikan kontribusi bagi demokrasi, kebudayaan, dan sosial kemasyarakatan di tingkat nasional maupun internasional," ujar Adi, Minggu (22/9/2024).

Adi juga menyampaikan bahwa perjalanan Megawati ke Samarkand tidak hanya untuk menerima gelar tersebut, tetapi juga untuk berziarah ke makam Imam Bukhari. Hal ini menunjukkan bagaimana Megawati memiliki perhatian besar terhadap upaya mewujudkan peradaban dunia yang lebih baik melalui pendekatan kebudayaan.

"Ibu Megawati meyakini bahwa jalan kebudayaan adalah jembatan dialog antarbangsa yang efektif, terutama dalam menghadapi kebuntuan hukum internasional akibat konflik geopolitik dunia saat ini," tambah Adi.

Baca Juga: KPU Jatim Akan Gelar Deklarasi Kampanye Damai di Tugu Pahlawan

Dalam pidato ilmiahnya, Megawati juga menyoroti pentingnya Jalur Sutra sebagai bagian dari sejarah peradaban dunia. Menurutnya, Jalur Sutra tidak hanya menjadi rute perdagangan, tetapi juga berperan dalam membangun visi dan kepeloporan dalam menciptakan peradaban dunia modern.

"Jalur Sutra tidak sekadar rantai perdagangan, melainkan juga cerminan visi untuk membangun peradaban dunia," kata Adi, mengutip pidato Megawati.

Uzbekistan, yang menjadi tempat Megawati menerima gelar tersebut, merupakan salah satu pusat utama Jalur Sutra di masa lalu. Selain menerima penghargaan, Megawati juga berziarah ke makam Imam Bukhari di Samarkand, kota tua yang kini berada di wilayah Uzbekistan.

Baca Juga: Bu Risma Pertegas Komitmen Pendidikan Gratis SMA/SMK dalam Kegiatan SICITA di Surabaya

Hubungan Indonesia dengan Uzbekistan juga memiliki sejarah panjang, terutama terkait peran Presiden Sukarno dalam menemukan makam Imam Bukhari. Saat kunjungan ke Uni Soviet, Bung Karno mensyaratkan agar makam Imam Bukhari "ditemukan" dan kemudian direnovasi hingga kini menjadi kompleks bersejarah yang penting.

"Sejarah ini membuktikan bagaimana Bung Karno melalui jalan kebudayaan mampu memainkan peran penting dalam membentuk peradaban dunia," tutup Adi. ***

Editor: Nawi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini