NAWACITAPOST.COM – Suasana di depan Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta Pusat, memanas ketika sekelompok massa yang terdiri dari guru besar, akademisi, dan aktivis 1998 menggelar aksi protes.
Dengan semangat yang menyala, mereka memekikkan sumpah rakyat Indonesia, menuntut keadilan, demokrasi, dan meminta pemerintahan Jokowi segera turun dari tampuk kekuasaan. Aksi ini dipimpin oleh aktivis 1998, Yanuar Nugroho, yang dengan lantang membacakan sumpah di tengah gemuruh dukungan massa.
Di tengah aksi tersebut, para peserta mengangkat tangan kiri mereka, seolah mengukuhkan tekad dan semangat juang yang tak pernah padam. “Sumpah rakyat Indonesia, kami masyarakat Indonesia bersumpah bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan,” ujar massa serentak mengikuti orasi Yanuar.
Mereka melanjutkan dengan lantang, “Kami rakyat Indonesia bersumpah, berbangsa satu, bangsa yang gaduh akan keadilan,” mempertegas suara rakyat yang haus akan keadilan yang hakiki.
Tidak hanya itu, sumpah tersebut juga mencakup bahasa perlawanan yang tajam. “Kami rakyat Indonesia bersumpah, berbahasa satu, bahasa kebenaran, bahasa tanpa kemunafikan, dan bahasa yang bisa menjatuhkan Jokowi,” imbuh mereka lagi.
Aksi ini kemudian diakhiri dengan pekikan “Merdeka!” yang menggema di sekitar Gedung MK, seolah menjadi simbol kebebasan dan perlawanan yang ingin mereka wujudkan.
Yanuar Nugroho, sebagai pemimpin aksi, menegaskan bahwa gerakan ini bukanlah yang terakhir. Ia mendorong seluruh peserta untuk terus menyuarakan aspirasi mereka melalui berbagai platform, termasuk media sosial.
“Gerakan kita hari ini bukan hanya untuk hari ini saja. Saya ingin mengajak teman-teman untuk menyuarakan suara teman-teman, bisa lewat medsos bisa lewat apa saja yang teman-teman gunakan untuk melakukan perlawanan ini sampai Jokowi turun,” ujar Yanuar.
Baca Juga: Gaya Hidup Kaesang dan Erina Gudono di Amerika Serikat Menuai Kontroversi, Netizen Geram
Setelah aksi di depan Gedung MK berakhir, sebagian besar massa bergerak menuju Gedung DPR. Di sana, unjuk rasa masih berlangsung dengan dukungan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk buruh dan mahasiswa. Mereka bersatu dalam seruan yang sama: "Selamatkan demokrasi" dan "Selamatkan Konstitusi." Pekikan ini menggema saat para aktivis bergerak dari Gedung RRI menuju Gedung MK.
Massa aksi ini datang dengan membawa sejumlah spanduk yang penuh dengan pesan perlawanan. Beberapa spanduk besar bertuliskan, “MK itu Solusi Jangan Lu Lagi Lu Lagi”, “#Save MK Jangan Begal Konstitusi”, serta “Demokrasi di Titik Nadir”.
Pesan-pesan ini dengan jelas mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap kondisi demokrasi di Indonesia saat ini, yang mereka anggap berada dalam ancaman serius.
Tidak hanya itu, spanduk lain juga mencantumkan tulisan "Indonesia Darurat Demokrasi, Matinya Demokrasi Indonesia" dan "Baleg DPR Pembangkang Konstitusi." Massa juga menolak pelaksanaan pilkada yang mereka anggap sebagai "akal-akalan penguasa," dan menuntut Mahkamah Konstitusi untuk menjaga integritas serta keadilan dalam keputusan terkait UU Pilkada yang kontroversial.
Artikel Terkait
PDIP Mencari Teman Koalisi untuk Pilkada Jakarta 2024, Pertimbangkan Usung Anies-Hendrar Prihadi
Usai Kena Reshuffle, PDIP Beri Tugas Baru untuk Yasonna Laoly
Djarot Duga Pencopotan Yasonna Laoly dari Jabatan Menkum HAM Terkait Pengesahan Kepengurusan PDIP
Ada Demo Tolak Revisi UU Pilkada, Simak Rekayasa Lalu Lintas di Jakarta
BEM UI Kawal Putusan MK dengan 7 Tuntutan, Tuding DPR Tidak Lagi Representasi Rakyat