Jumat, 5 Juni 2026

Terkait Babi Mati di Desa Samasi, Ini Penjelasan Dermawan Zagoto Kadis Pertanian dan Peternakan Kota Gunungsitoli  

Photo Author
Ronaldy, Nawacita Post
- Jumat, 7 Januari 2022 | 12:47 WIB
Satu dari sekian puluh ekor babi mati di desa Samasi, kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli. foto ist.
Satu dari sekian puluh ekor babi mati di desa Samasi, kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli. foto ist.

Jakarta, NAWACITAPOST.COM - Jika ada babi mati karena penyakit  African Swine Fever (ASF). Yaitu penyakit infeksius pada babi yang disebabkan oleh virus DNA beruntai ganda dari family Asfarviridae. Penyakit ini umumnya ditandai dengan perdarahan pada telinga, punggung dan kaki, dan berbintik merah. Virus ini menyebabkan kematian dan mempunyai dampak ekonomi yang besar, namun penyakit ASF tidak bersifat zoonosis sehingga tidak menimbulkan dampak bagi kesehatan manusi, jelas Indrawati Sendow, A Ratnawati, NLPI Dharmayanti dan M Saepulloh dari Balai Besar Penelitian Veteriner yang di muat di WARTAZOA Vol. 30 No. 1 Th. 2020.

Baca Juga : Eduard Zamasi : Bantuan Dana Desa Anak Babi di Desa Samasi Gunungsitoli Diduga Salah Prosedur 


Terkait adanya temuan 72 ekor babi mati di Desa Samasi, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Gunungsitoli Dermawan Zagoto ketika dihubungi Nawacitapost.com, Rabu (5/1/2022) sependapat dengan para ahli dari balai besar penelitian Veteriner.

"‌Dari pendataan di awal bulan Desember 2021, itu yang mati secara bertahap 72 ekor anak babi itu di awal, bahwa kemudian ada imbas dari itu. Itu kan ada partisipasi masyarakat melaporkannya. Masyarakat boleh melaporkannya, bukan dari kita (Dinas Pertanian dan Peternakan Gunung Sitoli). Dan kita berharap selalu terbuka pintu informasi dari mereka kepada kita. Nah proses terhadap babi yang 72 ekor anak babi itu, informasi terhadap penyebab kematian itu, kan petugas karantina dari kepulauan Nias telah berkunjung ke sana (Desa Samasi). Kemudian mengidentifikasi dan secara lisan melaporkan kepada saya bahwa ada indikasi penyebab kematian babi itu adalah ASF," tutur Dermawan Zagoto.

Sementara, untuk memastikan kan perlu uji laboratorium. karena Keterbatasan karantina di tempat itu mereka belum punya laboratorium, kami juga belum punya laboratorium,  tetapi dari ciri fisiologisnya itu ASF, seperti adanya bintik merah, tandasnya.

Sehingga, langkah yang dilakukan adalah pencegahan. Sementara kalau ketersediaan babi itu darimana itu kita gak tahu. Kami dari Dinas Pertanian dan Peternakan dapat informasi bahwa ada babi yang mati, maka kami segera meluncur kesana, dan yang memeriksa dan memonitoring terkait babi mati itu kepala bidang peternakan disusul dengan petugas karantina, ujarnya.

Untuk hal tersebut, Dermawan Zagoto menegaskan, secara kesehatan ternak, bisa diduga bukan hanya 72 ekor babi yang mati,  tetapi babi punya warga juga.  Cuman, mungkin  warga enggan melaporkannya. Dan, bila ada babi punya warga mati, maka  desa itu perlu di isolasi dengan jarak radiusnya sejauh 8 Km.

Sementara itu tokoh masyarakat desa itu, Eduard Zamasi mendukung penuh pernyataan Kadis Pertanian dan Peternakan kota Gunungsitoli, bahwa benar bukan hanya 72 ekor babi yang mati dari bantuan dana desa, tetapi ada babi punya warga juga turut mati.

Kembali ke Dermawan, bahwa babi yang masih hidup. Dikasih injeksi pencegahan, tetapi yang namanya virus gak bisa. Misal kita kena flu dikasih obat, kan tidak langsung sembuh tetapi butuh beberapa waktu.

Dermawan Zagoto menambahkan bahwa soal prosedur dan lalu lintas peternakan itu kami sudah miliki. Artinya, ketika ada babi masuk ke tempat kami dari luar daera,  kita meminta ada pemeriksaan hewannya. Kemudian dari pelabuhan ada sertifikasi karantina, lalu diperiksa, dan yang periksa dalam pelabuhan kan petugas karantina itu tahapannya, tetapi seperti apa babi itu dalam perjalananannya kita tidak mendapatkan informasi dari tempat asal babi, contohnya yang membutuhkan itu Desa Samasi.

Sebaiknya pihak Desa Samasi terkait pengadaan ke dinas yang terkait. Dinas terkait itu kan berhubungan dengan dana desa itu dikaitkan dengan dinas PMD, bisa dikoordinasikan ke dinas tersebut, jelasnya.

Namun dari aspek kesehatan ternaknya kami juga terlibat, seperti babi masuk ke desa itu sehat. Nah sejauh ini kami tidak dikoordinasikan dengan hal itu. bisa saja dilakukan atas keyakinan masyarakat, ini kan swakelola.Yang jelas dan pasti kami tidak tahu prosedurnya seperti apa.

"‌Saya juga tidak tahu bahwa ada babi masuk ke desa Samasi, yang saya tahu ada kejadian bahwa ada babi mati. Akhirnya saya perintahkan Kepala Bidang Peternakan, untuk memeriksa,  kenapa babi mati di Desa Samasi? ‌Dan setelah diperiksa ada indikasi secara fisiologis ada ciri-ciri bintiknya merah," tegas Dermawan Zagoto.

Sedangkan Kepala Desa Samasi, Pebruariman Laoli, ketika dihubungi nawacitapost.com, Selasa (4/1/2022). “Perangkat desa saya yang membidangi, sudah menjalankan tugasnya, dalam hal pengadaan babi untuk kelompok pemberdayaan masyarakat sesuai mekanis (swakelola) dan RAB. Dan jauh lebih bagus jika saudara berkenan lagsung ke kantor desa. kita siap melayani tanpa mengenal lelah.  Soalnya, saya tadi  lagi ngajar,” ucapnya.

-


Sementara Dasman Telaumbanua Mantan Camat Gunungsitoli Idanoi ketika dihubungi nawacitapost dalam dua hari, Rabu (5/1/2022) dan Kamis (6/1/2022) tidak merespon.

 

Editor: Ronaldy

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini