Jumat, 5 Juni 2026

Ihwal Rencana Pemerintah Menurunkan Kemiskinan Ekstrem Nol Persen, Direktur Eksekutif CISA Herry Pasrani Mendrofa Beri Catatan Penting

Photo Author
Ronaldy, Nawacita Post
- Minggu, 10 Oktober 2021 | 18:58 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST - Saat ini Pemerintah Indonesia sedang menargetkan penurunan angka kemiskinan ekstrem pada tahun 2024. Langkah Pemerintah ini pun menuai respons dari Pengamat Sosial-Politik dari Centre for Indonesia Strategic Actions (CISA).

Baca Juga : Pengamat ke Pigai : Berhentilah Menghamburkan Kata Kata yang Menyakiti Semua Orang



Pertama ihwal penurunan kemiskinan itu target lumrah setiap pemerintah atau rezim yang sudah harus direalisasikan dengan tuntas," ucap Herry Mendrofa, Direktur Eksekutif CISA melalui keterangannya yang diterima nawacitapost.com, Minggu (10/10/2021).

Menurutnya, optimalisasi penurunan kemiskinan ekstrem seyogianya tidak hanya mengandalkan pada program bantuan sosial.

Kedua bahwa bantuan sosial yang umumnya menjadi program pamungkas ini kan adalah tanggungjawab pemerintah yang diamanatkan konstitusi tentunya tidak dapat dijadikan prioritas program penanganan penurunan kemiskinan," ungkap Herry.

Lebih lanjut Herry menyebutkan bahwa persoalan kemiskinan terletak pada penguatan kesejahteraan pasca keluar dari status peserta penerima Bantuan Sosial (Bansos).

Ketiga adalah upaya pemerintah dalam memastikan pergeseran status keluarga pra-sejahtera menuju sejahtera karena keluar dari kepesertaan bansos tidak lagi mengalami kemunduran ekonomi. Hal ini harus diperkuat melalui program pemberdayaan dan pengembangan sosial lainnya," tuturnya.

Kondisi pandemi Covid-19 juga cukup berpengaruh pada optimisme penurunan kemiskinan yang cukup implikatif.

"Implikasi minor dari pandemi Covid-19 yang menyebabkan angka kemiskinan dan pengangguran kembali meningkat serta sektor ekonomi esensial masyarakat terganggu terlebih dahulu perlu direkonstruksi secara optimal oleh Pemerintah," ujarnya.

Selain itu, Dia menyampaikan persoalan pendidikan dan budaya menjadi faktor kultural penyebab kemiskinan di Indonesia masih tergolong tinggi.

"Keseriusan pemerintah menggarap sektor pendidikan hingga budaya yang berpihak kepada segmentasi masyarakat yang prasejahtera akan memberikan sumbangsih positif terhadap target pemerintah dalam menurunkan kemiskinan," kata Herry.

Belum lagi pendekatan percepatan penurunan kemiskinan juga mempertimbangkan spektrum kemiskinan perkotaan dan kemiskinan pedesaan.

"Locus Kemiskinan ini ada di perkotaan dan pedesaan. Artinya perlu pendekatan yang berbeda namun saling berkorelasi karena karakter dan problematikanya cukup diferensial," pungkas Herry Mendrofa.

Editor: Ronaldy

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini