Jakarta, NAWACITAPOST - Diusianya yang tak lagi muda. Dokter Gigi Lie Dharmawan (73) mendirikan Rumah Sakit Apung (RSA) swasta dari dana pribadinya, dimulai sejak 2013. Alasannya sederhana, ingin mengobati rakyat di pulau-pulau kecil, yang memang hanya bisa dijangkau dengan perahu atau kapal laut sedang.
Baca Juga : BNPB Serahkan Bantuan Sebesar 4 Miliar untuk Gempabumi Sulbar
MAKA, berlayarlah dr Lie bersama timnya mengunjungi dan mengobati warga tak mampu tersebut. Peralatan di RSA tersebut dilengkapi alat EKG (elektrokardiogram), USG (ultrasonografi), laboratorium, kamar bedah, ruang resusitasi, serta ruang pemeriksaan dan perawatan pasien. Hasilnya sudah banyak warga miskin di pulau-pulau kecil terbantukan dengan adanya RSA dr Lie.
Kini pelayanan RSA dr Lie mencapai 8 tahun. Namun, pelayanan medis di Pulau Semau, Kupang, NTT dari tanggal 7 hingga 14 Juni 2021. Selama empat hari di Semau, total 311 orang pasien dilayani dalam bentuk pengobatan umum, bedah minor, KB, KB Implan, suntik 3 bulan, cabut gigi, dan Antenatal Care (ANC). Pelayanan medis itu boleh dibilang terakhir, dan mungkin terhenti agak lama.
Pasalnya, RSA dr karam di perairan Bima, NTB, Rabu (16/6) sekitar pukul 14.00 WIT. Penyebabnya, kata dr. Lie masih ditelusuri, tapi tidak ada korban jiwa dalam karamnya kapal tersebut, ujarnya kepada media .
Namun, bagi dr. Lie, RSA itu boleh tenggelam, tapi pelayanan medis ke warga miskin tetap harus muncul bukan dipermukaan saja, melainkan di sela-sela jeritan warga miskin.