Kamis, 4 Juni 2026

Ma'ruf Amin Ingin Jadi Anak Presiden

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Sabtu, 1 Juni 2024 | 11:39 WIB
Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin. (X)
Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin. (X)

NAWACITAPOST.COM - Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin menyampaikan pandangan mendalam mengenai kebebasan manusia dalam memilih jalan hidupnya dan batas-batas yang ditentukan oleh takdir Ilahi. Dalam sambutannya pada pembukaan Ijtima' Ulama Komisi Fatwa MUI Se-Indonesia, Rabu (29/5/2024), Ma'ruf Amin menjelaskan bahwa iman adalah pilihan bebas yang tidak bisa dipaksakan, sementara beberapa aspek kehidupan sudah ditetapkan oleh Allah SWT.

Ma'ruf Amin menekankan bahwa meskipun Allah memiliki kekuasaan untuk membuat semua manusia beriman, Dia tidak melakukannya. "Kalau Allah mau mengimankan semua bisa, memaksa semua bisa, apakah Allah mau memaksa orang suruh iman semua? Kata Allah jangan, iman tidak boleh dipaksa," ujarnya.

Menurut Ma'ruf, iman yang dipaksakan tidak memiliki nilai yang sama dengan iman yang dipilih secara sukarela dan penuh kesadaran. Lebih lanjut, Ma'ruf Amin menyatakan bahwa ada beberapa hal yang sudah ditetapkan oleh Allah dan tidak bisa dipilih oleh manusia. Salah satunya adalah tempat kelahiran.

"Kita nggak bisa milih. Pak Gubernur, walaupun sekarang jadi Gubernur Bangkabelitung lahirnya di Aceh. Nggak bisa saya milih lahir di Bangka," jelas Ma'ruf.

Baca Juga: Laksanakan Upacara, Rutan Kelas IIB Sibuhuan Kanwil Kumham Sumut : Untuk Peringatan Hari Lahir Pancasila

Begitu pula dengan orang tua dan kondisi fisik yang kita miliki saat lahir, semuanya adalah takdir yang tidak dapat diubah. Dalam sambutannya, Ma'ruf juga memberikan refleksi yang dianggap sebagai sindiran sosial.

Ia bercanda bahwa jika bisa memilih, ia ingin menjadi anak presiden. "Orang tidak bisa milih siapa bapaknya, siapa ibunya. Apa bisa milih? Kalau bisa milih, saya ingin jadi anak presiden," kata Ma'ruf dengan nada humor.

Ma'ruf Amin menutup sambutannya dengan menekankan pentingnya kebebasan manusia dalam memilih jalan hidupnya. Menurutnya, Allah memberikan kebebasan ini agar manusia bisa datang kepada-Nya dengan ketaatan yang didasari oleh pilihan dan kecintaan yang tulus.

"Tetapi dalam masalah memilih jalan hidup, Allah tidak maksa, supaya milih, iman itu, dengan ikhtiar kita supaya datang kepada Allah," kata Ma'ruf.

Baca Juga: Dua Alasan Buruh Tolak Keras Iuran Tapera

Pernyataan ini ditafsirkan oleh beberapa pihak, termasuk Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto, sebagai sindiran terhadap keadaan sosial dan politik saat ini. Hasto menganggap bahwa pernyataan Ma'ruf tersebut mencerminkan kekhawatiran tentang pelaksanaan meritokrasi yang seharusnya dijunjung tinggi oleh pemimpin tertinggi negara.

"Ya itu kalau kita sebagai bangsa Timur sangat memahami pernyataan tersebut. Ya, itu sudah tahu mana yang ditujukan dari pernyataan KH Maruf," kata Hasto

 

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini