Baca Juga : Jokowi Ucap Bipang Riuh, 2 Proyek Strategis Dikampung Fadli Zon Diresmikan
KALIMANTAN BARAT pun demikian, kopi sepok dan babi panggang (bipang). Oleh-oleh terakhir menjadi nyinyiran oleh mereka yang anti Jokowi. Bipang bagi lawan politik adalah semacam racun tapi sebutan haram selalu disematkan.
Padahal sebagai makanan khas oleh-oleh, seharusnya bipang tak menjadi korban. Bukankah yang datang ke Kalimantan Barat selain turis lokal ada juga turis dari luar negeri. Turis luar negeri ini (khususnya dari Eropa dan Cina) pasti memakan bipang dan babi asap.
Hal sama juga berlaku di Nias, soal wisata lautnya tak kalah dengan Bali, selain lompat batu. Turis luar negeri banyak berdatangan ke daerah tersebut. Sehingga pantas saja disebut pulau impian. Namun tak lengkap jika berwisata tanpa oleh-oleh di pulau impian dengan makanan khasnya babi asap. Maklum di pulau impian penduduknya 98 persen hobi makan babi asap.
Jadi bagi rakyat kepulauan Nias (98 persen) babi asap adalah makanan paling lezat. Termasuk daerah yang mayoritas penduduknya suka makan babi (Sumut, NTT, Papua, dan Sulut) serta turis luar negeri pun berkata enak dan lezat atas makanan tersebut.
Bipang dan babi asap yang dimakan dan bisa dibawa pulang para turis sebagai oleh-oleh, mempunyai nilai ekonomis bagi masyarakat setempat. Pendapatan para pedagang dari berjualan bipang dan babi asap bisa 4 kali UMR Jakarta di tahun 2021.