Kamis, 4 Juni 2026

Cegah Penghinaan Terhadap Budaya, Beesokhi Ndruru Dorong Pembentukan Dewan Adat Nias

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Jumat, 26 April 2024 | 15:59 WIB
Wakil Ketua Umum Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (HIMNI) Beesokhi Ndruru. (Istimewa)
Wakil Ketua Umum Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (HIMNI) Beesokhi Ndruru. (Istimewa)

NAWACITAPOST.COM - Dalam sebuah postingan di media sosial, seseorang dengan inisial EHM menuliskan kalimat yang merendahkan suku Nias. Ia menyamakan suku Nias dengan binatang. Kasus ini telah dilaporkan ke Polda Sumatera Utara dengan nomor LP/B/452/IV/2024/SPKT/POLDA SUMUT.

Penghinaan terhadap suku tertentu di Indonesia, terutama masyarakat Nias, bukanlah hal baru. Sebelumnya, seseorang berinisial CS juga telah merendahkan martabat suku Nias.

Menanggapi maraknya penghinaan terhadap berbagai suku di Indonesia, Wakil Ketua Umum Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (HIMNI) Beesokhi Ndruru, angkat suara. Ia menekankan pentingnya tindakan preventif dan koreksi terhadap ujaran kebencian ini.

Menurutnya, verifikasi terhadap informasi yang merendahkan suku bangsa tertentu harus dilakukan oleh pemerhati budaya dan Dewan Adat setempat. Hal ini menurut Beesokhi Ndruru sangat penting untuk menghindari terjadinya standardisasi yang salah terhadap budaya suku tersebut.

Baca Juga: Faigiziduhu Ndruru: Budaya Nusantara, Kekuatan Bangsa yang Dahsyat

"Ketika orang lain menghina budaya Nias, salah satu budaya di Indonesia, maka tentu konsekuensi yang pertama adalah lakukan langkah-langkah verifikasi terhadap penghinaan itu," kata Beesokhi Ndruru, di Jakarta, Jumat (26/4/2024).

Beesokhi Ndruru juga mengajak para tokoh adat dan budaya dari berbagai suku di Indonesia untuk membangun literasi yang tepat melalui media sosial dan berbagai platform lainnya. Hal ini penting untuk melawan narasi negatif dan generalisasi yang merugikan suku-suku tertentu.

"Action yang kedua adalah preventif, mencegah supaya kejadian itu tidak terjadi lagi. Dan yang melakukan preventif itu, bisa menjadi duta budaya," kata Beesokhi Ndruru.

Ia juga menyinggung soal Nusantara Awards yang bakal digelar Media Nawacita Indonesia (MNI), pada 9 Mei 2024 mendatang. Menurutnya, ajang ini bisa dimanfaatkan untuk mengklarifikasi budaya-budaya yang ada di Indonesia.

Baca Juga: Mencicipi Kelezatan Lehedalo Nifange, Rendang Unik dari Nias Pulau Impian

"Ini lho budaya-budaya yang ada di Indonesia, contohnya dari suku A, budayanya ini. Makanya, kami mendorong para tokoh-tokoh adat dan budaya untuk terus menyampaikan literasi yang cukup tentang budaya masing-masing suku bangsa," kata Beesokhi Ndruru.

Sementara itu, tokoh Kepulauan Nias, Faigiziduhu Ndruru menambahkan, menghormati budaya orang lain adalah bagian dari edukasi. Dia juga menegaskan bahwa menghina budaya orang lain mencerminkan orang tersebut memiliki etika, moral dan budaya yang buruk. Sebab, menghormati adat dan budaya suku bangsa lain, merupakan bukti bahwa seseorang telah menjunjung tinggi budayanya sendiri.

"Karena tidak ada budaya manapun yang dibenarkan menghina budaya orang lain," kata Faigiziduhu Ndruru.

Selain itu, Faigiziduhu Ndruru menekankan pentingnya mencari informasi yang benar, terutama dalam konteks budaya, sehingga tidak terjadi klaim tidak berdasar dan merugikan suku-suku di Indonesia. Saling menghormati dan menghargai keberagaman budaya adalah kunci untuk membangun bangsa yang harmonis, rukun, dan damai.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini