Jumat, 28 Agustus 2026

Dari Ranting hingga Ruang Digital, Kanal 'Titip Gagasan' ala Gus Rozin Rekam Aspirasi Warga NU

Photo Author
- Jumat, 28 Agustus 2026 | 19:07 WIB

Jombang, Nawacitapost.com — Persoalan Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar ke-35 tidak hanya berbicara tentang kepemimpinan di tingkat pusat. Dari kanal “Titip Gagasan” yang dibuka calon Ketua Umum PBNU KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, muncul beragam aspirasi warga NU yang menyoroti persoalan ranting, penguatan NU di luar Jawa, kaderisasi, pesantren, ekonomi jamaah hingga tantangan organisasi di ruang digital.

Salah satu pesan datang dari Grobogan, Jawa Tengah. Seorang warga NU menyoroti lemahnya komunikasi antara struktur NU di tingkat atas dengan ranting dan anak ranting yang menjadi basis utama organisasi.

Tulang punggung jam'iyah adalah di tingkat ranting dan anak ranting. Tapi mereka tidak pernah dijawil pengurus atasnya,” tulisnya.

Menurut pengirim pesan tersebut, interaksi dengan struktur bawah kerap baru berlangsung ketika ada reorganisasi. Setelah itu, perhatian terhadap ranting dinilai kembali berkurang.

Di-jawil-nya hanya saat reorganisasi di tingkat MWC. Setelahnya mereka sibuk dengan urusannya yang terkadang tak menyentuh organisasi,” lanjutnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu dari puluhan respons yang masuk melalui kanal Titip Gagasan hingga 27 Agustus 2026.

Pengirimnya berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pengurus NU di sejumlah tingkatan, anggota badan otonom, hingga masyarakat umum. Respons tersebut tidak seluruhnya berisi dukungan terhadap pencalonan Gus Rozin.

Sebagian besar justru berupa harapan, kritik, dan usulan mengenai arah NU setelah Muktamar ke-35. Gus Rozin mengatakan kanal tersebut dibuka untuk mendengar aspirasi dari berbagai lapisan warga NU.

Masukan ini menjadi cara saya untuk mendengar suara jamaah dari berbagai lapisan warga NU,” ujar Gus Rozin.

Jarak Pusat dan Akar Rumput

Salah satu persoalan yang berulang dalam masukan warga adalah jarak antara struktur NU dengan basis jamaah. Seorang pengurus NU dari Kota Serang, Banten, meminta PBNU mendatang memberikan perhatian lebih besar kepada struktur yang bersentuhan langsung dengan warga.

“Sudah saatnya PBNU memikirkan akar rumput, minimal memberdayakan langsung langkah strategis terhadap semua MWCNU, karena yang bersentuhan langsung dengan warga NU adalah pengurus MWCNU atau tingkat ke bawahnya,” tulisnya.

Ia bahkan mengusulkan adanya tim di tingkat PBNU yang secara khusus melakukan pemantauan dan pendampingan terhadap MWCNU.

Masukan tersebut memperlihatkan adanya harapan agar hubungan PBNU dengan struktur di bawahnya tidak berhenti pada koordinasi administratif, tetapi berkembang menjadi pola pelayanan, pendampingan, dan penguatan kapasitas organisasi.

Suara dari Luar Jawa

Persoalan lain muncul dari Labuhan batu Selatan, Sumatera Utara. Seorang pengurus NU menyoroti perbedaan kultur, sejarah, dan perkembangan NU antara Jawa dan Sumatera. “Rasanya sangat jauh perbedaan kultur, budaya, dan historis sejarah N.U antara Pulau Jawa dan Sumatera,” tulisnya.

Ia juga menyinggung masih adanya anggapan di kalangan Nahdliyin bahwa NU lebih mudah berkembang di Jawa dibandingkan wilayah lain. “Masih saja bahasa anggapan ‘NU itu cuma bisa berkembang di Jawa, kalau di Sumatera tak akan bisa’ subur keluar dari mulut Nahdliyin bahkan pengurus yang sudah dikader,” tulisnya.

Halaman:

Editor: Elya Yuddy Irawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini