Islam Wasathiyah
Mewakili delegasi, Syekh Shalahuddin el-Syami menyampaikan salam hormat dari Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua MHM, Imam Akbar Ahmed Al Tayeb, kepada Menag Yaqut Cholil Qoumas. Grand Syekh juga menyampaikan ucapan selamat menjalani ibadah Ramadan 1445.
Menurut Syekh Shalah, panggilan akrabnya, program ‘Syiar Ramadan 1445 H dan Persaudaraan Manusia’ menegaskan dan mengukuhkan hubungan ilmiah antara Indonesia dan Al Azhar yang sudah lama terjalin. Ada karya ulama Indonesia yang dicetak dan diajarkan di Mesir, demikian juga ada karya ulama Mesir yang diajarkan di Indoneasia.
“Hubungan ini sudah mengakar. Program ini menjadi langkah bagus untuk terus membangun hubungan ilmiah antara Indonesia dan Al-Azhar, Mesir,” sebutnya.
Baca Juga: Nyepi Beriringan Ramadan, Menag: Momentum Introspeksi, Saling Hormati Ritual dan Tradisi
Syekh Shalah menjelaskan, Grand Syekh Al Azhar Ahmed Al Tayeb dalam beragam kesempatan berbicara tentang profil Moderasi Beragama di Indonesia. Indonesia menjadi model toleransi dan harmoni. Sebab, meski beragam, Indonesia bisa menerapkan harmoni dan nilai toleransi.
“Ini secara nyata bisa dilihat dalam bentuk Zayed Award for Human Fraternity yang diberikan kepada NU dan Muhammadiyah. Ini penegasan akan pentingnya peran Indonesia dalam mewujudkan toleransi dan harmoni, bukan hanya untuk Indonesia, tapi juga menjadi model dunia,” sebut Syekh Shalah.
“Kehadiran kami dalam program ini ingin bersama-sama mengukuhkan nilai-nilai persaudaraan, toleransi, dan harmoni,” tandasnya.
Program Syiar Ramadan
Direktur MHM cabang Indonesia Muchlis M Hanafi, menambahkan, ‘Syiar Ramadan 1445 H dan Persaudaraan Manusia’ diselenggarakan dalam bentuk fasilitasi penempatan tiga penceramah dan tiga qari dari Al Azhar Asy-Syarif Kairo pada sejumlah masjid dan lembaga pendidikan keagamaan di Indonesia selama bulan puasa.
Selama di Indonesia, lanjut Muchlis M Hanafi, para Qari akan melakukan sejumlah kegiatan, antara lain: menjadi Imam Salat Fardu dan Salat Tarawih, membaca Al-Qur’an, baik dalam giat rutin sebelum atau setelah Salat maupun dalam momen acara peringatan Hari Besar Islam selama Ramadan, termasuk yang digelar oleh Pemerintah Daerah setempat.
“Mereka juga ahli qiraat. Sehingga akan mengisi Daurah ke-Alqur’anan. Misalnya, Talaqqi, Kajian Qiraat Sab`ah, Daurah Tajwid, serta pemberian ijazah dan sanad bacaan Al-Qur’an,” sebut Muchlis M Hanafi.
Untuk para penceramah, selama di Indonesia mereka akan melakukan sejumlah kegiatan, antara lain: memberikan ceramah/kultum. Jadwalnya disusun oleh BKM Provinsi untuk disesuaikan dengan kegiatan di masjid dan lembaga pendidikan keagamaan setempat. Giat lainnya adalah daurah kitab-kitab tertentu. Misalnya, tafsir, hadis, fiqih, dan lainnya.
“Para penceramah juga akan memberikan ijazah pengajaran kitab Hadis dan lainnya,” ucap Muchlis.
Ada sejumlah tema yang akan disampaikan para penceramah selama memberikan kajian di masjid dan lembaga pendidikan keagamaan, antara lain: Keistimewaan Ramadan, Akhlak Rasulullah saat Ramadan, Ramadan Bulan Al-Qur’an, Ramadan Bulan Kepedulian, Ramadan dan Persaudaraan Manusia, Ramadan dan Perbedaan, Puasa Raga Puasa Jiwa, Hikmah Nuzulul Qur’an, Lailatul Qadar dalam Al-Qur’an dan Hadits, Cinta Tanah Air dalam Al-Qur’an dan Hadits, serta Idulfitri dan Koeksistensi.
Artikel Terkait
Kemenag Gelar Seleksi Terbuka untuk Sembilan Jabatan Eselon II, Ini Syaratnya
Kemenag Matangkan Program Ramah Lansia dan Mitigasi Risiko Haji 2024
Kemenag Kaji Rekognisi Alumni Pesantren Selain Gelar Doktor Honoris Causa
Kemenag dan Kemenhaj Saudi Cek Kesiapan Layanan Fast Track Haji di Bandara Surabaya dan Solo
Gagal Paham dan Asbun, Kemenag Minta Gus Miftah Baca Edaran Pengeras Suara Sebelum Ceramah